Wanita dan Perasaan

9:26:00 AM

Sebenarnya saya agak malu buat nulis ini. Saya selalu berfikir lebih dari satu kali ketika bikin tulisan yang temanya perempuan. Tapi rasanya ini penting untuk diketahui dan demi mengobati rasa penasaran saya.

"Gak peka banget sih...". Kalimat ini tidak jarang saya dengar belakangan ini dari orang-orang sekitar. Baik ditujukan ke saya atau ke teman yang lain. Tapi seringnya ke saya sih. Hehe. Dan hebatnya polanya sama, yang ngomong itu perempuan, yang dituju laki-laki. Hmmm. Lama-kelamaan bosen dan gatel juga dengerinnya. Apa memang sebegitu parah gak pekanya?

Akhirnya saya coba-coba telusur jalan ceritanya. Introspeksi, muhasabah, sampai googling hanya untuk mencari sebabnya. Yak, sampai akhirnya saya memang percaya pada yang sering dilontarkan kebanyakan wanita, bahwa mereka mengaku sebagai insan yang lebih mengedepankan perasaan! Inilah sebabnya! Wow, sebegitu dahsyatnya kah perasaan seorang wanita sampai tega meng-nggak peka-in pria? Iya, tega banget. Mendapatkan pernyataan kayak gitu itu rasanya bagai dihujam ratusan jarum akupuntur. hehe.

Terus kok bisa ya yang dominan dari mereka itu perasaan? Kenapa? Semakin penasaran, googling lagi sekilas. Akhirnya ketemu babeberapa pendapat yang cukup relevan dan masuk akal.
Rasulullah Saw bersabda, “Aku tidak melihat wanita yang kurang akalnya dan agamanya yang dapat menghilangkan kemauan keras lelaki yang tegas daripada seorang di antara kamu”.
Para wanita sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama kami dan akal kami, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukankah kesaksian seorang wanita itu setengah kesaksian seorang laki laki’? Mereka menjawab, “Ya”.
Beliau bersabda, “Itulah kekurangan akalnya dan bukankah bila haid wanita tidak melakukan shalat dan juga tidak berpuasa?” Mereka menjawab: “Ya.” Rasululllah bersabda, “Itulah yang dimaksud kekurangan agamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari sabda Rasulullah di atas mungkin bisa sedikit mencerahkan bahwa memang dibandingkan laki-laki, wanita lebih jarang memikirkan sesuatu menggunakan akal atau logikanya. Alih-alih begitu, mereka memilih menggunakan perasaannya. Dalam persaksian, seorang wanita hanya berlaku setengah daripada seorang laki-laki. Jadi jika ingin wanita menjadi saksi, maka hadirkan seorang wanita yang lain sebagai saksinya.
“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang orang lelaki di antaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.” (QS. Al-Baqarah: 282).
Kedua, kaitannya dalam manajemen stres. Biasanya dalam kondisi inilah terlihat bedanya wanita dengan pria masalah perasaan dan emosional. Dalam tubuh manusia, ada yang namanya hormon oksitosin. Hormon ini terstimulus ketika manusia mendapatkan tekanan. Pada pria maupun wanita hormon ini berbeda cara kerjanya. Pada laki-laki, hormon testosteron akan mengurangi efek oksitosin. Sedangkan pada wanita, hormon esterogennya akan meningkatkan efek oksitosin. Lalu apa bedanya?

Semakin meningkatnya efek oksitosin maka semakin meningkat perasaan tenang seseorang. Oleh karena itu, ketika ada permasalahan wanita lebih cenderung membicarakan dan mendiskusikannya dibandingkan laki-laki yang lebih mengekspresikannya dengan tindakan dan amarah. Jadi sangat wajar, ucapan-ucapan pernyataan macam di awal tulisan ini dilontarkan oleh seorang wanita sebagai ekspresi mengatasi permasalahan mereka. Wanita akan merasa lebih baik setelah mereka menyatakan tentang keadaan diri mereka.

Akhirnya, saya bilang "ohhhh..." juga. Dua alasan di atas sepertinya cukup untuk memberikan pencerahan, kalau memang kaum hawa dominan perasaan seperti yang sering mereka akui. Hmmm..

Ya ya ya. Baiklah. Tapi satu hal yang mungkin jadi catatan adalah, sesungguhnya lelaki itu tidak se-nggak peka yang wanita bayangkan! Iya, bener, serius ini mah! Suara hati laki-laki! Hehe. Laki-laki itu bukannya gak punya perasaan. Sungguh laki-laki itu mengerti dengan permasalahan dan punya perasaan atas hal itu. Hanya saja kami jarang mengekspresikan secara visual. Ketika laki-laki diam atas permasalahan bukan berarti tidak peka. Tidak berreaksi bukan berarti cuek. Kadang kaum lelaki butuh ketenangan untuk memikirkan bagaimana mencari solusi dari sebuah permasalahan. Gitu.

Ya, siapapun kita, berjenis kelamin apapun kita, lebih baik damai aja ya. Bukankah berprasangka baik akan sesuatu jauh lebih baik jika kamu orang-orang yang beriman? Menjaga perkataan dan perbuatan atas orang lain juga sikap yang dicontohkan oleh Rasulullah bukan? Lantas kenapa tidak kita tauladani sikap beliau saja. Semoga bermanfaat. ^_^

Wallahu a'lam bisshowab. 

You Might Also Like

0 comments