Dua hari di nunukan yang subhanAllah banget. Sekali dayung benar2 4 pulau terlampaui. Mulai dari pulau Tarakan, Pulau Nunukan, Pulau Sebatik sampai Pulau besar Kalimantan. Yosh! Keliling Kepulauan Borneo dalam 2 hari, pertama kali seumur hidup! Lautan, sungai, hutan, rawa, sampai kebun sawit menjadi pemandangan yang sudah sangat mainstream selama perjalanan mendayung 4 pulau ini. Hingga akhirnya sampailah di tempat tinggal sementara selama...
Bagi yang merayakan lebaran di kampung halaman pasti menjumpai banyak pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh sanak saudara kepada kita, yang terkadang pertanyaan itu bikin kita hampir bosen dengerinnya. Iya kan? Gimana nggak, hampir setiap orang yang tanya ketika silaturahim, nanyanya itu mulu. Kenapa disebut "pertanyaan-pertanyaan sakti"? Karena nggak jarang juga diantara pertanyaan-pertanyaan tersebut ada pertanyaan yang begitu menohok kita. Mak jleb jleb gimana gitu....
Indonesia banyak masalah? Dari dulu juga udah gitu. Mau diapa-apakan juga tetap saja masalah akan selalu muncul. Selesai masalah ini, muncul masalah itu. Selesai masalah itu, muncul masalah baru yang lain. Begitu seterusnya. Ya, sunnatullahnya emang begitu.
Masalah politik, pendidikan, kriminalitas, sosial, dan sebagainya, banyak terjadi di Indonesia di satu dekade akhir ini. Apalagi hobi media yang suka mengheboh-hebohkan permasalahan, semakin membuat masalah-masalah tersebut semakin muncul di permukaan. Sehingga, masyarakat jauh lebih banyak tau tentang berita-berita yang mengandung masalah, daripada non masalah.
Contoh saja, masalah korupsi sapi yang beredar akhir-akhir ini. Pedagang sayur pasti tau masalah itu. Tapi coba tanyakan si penjual sayur tersebut, tau gak Indonesia pernah meraih medali emas di Olimpiade Matematika Internasional? Atau, tau gak kemarin Ahsan dan Hendra meraih medali emas di ajang Sudirman Cup? Saya ragu-ragu kalau mereka tau semua.
Kalau kata Pak Anies Baswedan, itu adalah efek dari sindrom Collective Pessimism, alias pesimis berjamaah yang melanda di Indonesia akhir-akhir ini. "Pesimis kok berjama'ah?". Tilik saja mulai tayangan televisi yang lebih banyak sinetronnya daripada tayangan yang berkualitas, tayangan berita yang lebih banyak kasus kerusuhan daripada berita prestasi-prestasi anak negeri, hingga tayangan infotainment yang selalu menyuguhkan kisah sedih selebritis dan lain sebagainya yang hampir kesemuanya beraromakan negatif. Hingga efeknya, pola pikir masyarakat pun ikut-ikutan jadi pesimis.
Hal ini tentu menjadi sesuatu yang sangat tidak kita -masyarakat Indonesia- inginkan. Berkutat dengan pesimisme berarti sama dengan mempertahankan, bahkan memperburuk keterpurukan. Siapa coba yang ingin dirinya semakin terpuruk? Dan merubah 180 derajat keadaan tersebut adalah jadi solusi terbaiknya.
Tentunya untuk melakukan perubahan tersebut butuh dukungan penuh dari seluruh masyarakat. Karena pemerintah bukanlah malaikat yang bisa membalikkan keadaan negaranya begitu saja. Butuh dukungan rakyatnya. Jangan katakan "That's your duty!", tapi katakan lah "That's our duty!". Masalah pendidikan, ekonomi, dan sebagainya bukan masalah pemerintah, tapi itu masalah kita, masalah masyarakat Indonesia. Jadi kalau ingin masalahnya selesai, ya kita harus ikut turun tangan.
Menyelesaikan masalah tersebut pun memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh terobosan-terobosan dan usaha yang ekstra dari segenap masyarakat Indonesia. Masalah moral misalnya. Tidak bisa pemerintah hanya membuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang moral-moral bagi rakyatnya, tapi juga butuh dukungan masyarakat untuk menerapkan dan istiqomah terhadap moral-moral tersebut. Masalah pendidikan juga, tidak bisa pemerintah hanya memperbaharui kurikulum begitu saja. Tapi juga butuh peran masyarakat untuk memahami dan menerapkan pentingnya kurikulum tersebut sebagai landasan dalam proses belajar mengajar.
Ya lagi-lagi, "That's our duty, guys!". Siapapun kita, itu masalah kita! Dan pastikan kita berada pada jalur yang benar terhadap permasalahan tersebut. Mengubah Indonesia itu ibarat mengubah arah kemudi kapal tengker yang panjangnya 1 kilometer. Ketika kemudi tersebut kita belokkan, kapal tidak serta merta langsung membelokkan diri, mungkin butuh 3-5 kilometer dulu baru bisa berupah arahnya. Tidak seperti kapal boat yang ketika dibelokkan arahnya, langsung kapalnya belok ke arah yang diinginkan.
Akhirnya, pastikan kita mengubah arah kemudi ke arah yang benar. Mungkin 20 atau 30 tahun lagi kita atau mungkin anak kita yang akan merasakan efek dari perubahan arah kemudi tersebut. Istiqomah dengan perubahan, dan komitmen dengan niat "hijrah" yang kita inginkan jadi kunci utama. Sudah lah, mengeluh itu tidak akan mengubah keadaan, justru sebaliknya. Jadi? Ingin jadi bagian dari sejarah perubahan bangsa Indonesia? Jawabannya ada pada diri kita
Semoga bermanfaat ya.. ^_^
Masalah politik, pendidikan, kriminalitas, sosial, dan sebagainya, banyak terjadi di Indonesia di satu dekade akhir ini. Apalagi hobi media yang suka mengheboh-hebohkan permasalahan, semakin membuat masalah-masalah tersebut semakin muncul di permukaan. Sehingga, masyarakat jauh lebih banyak tau tentang berita-berita yang mengandung masalah, daripada non masalah.
Contoh saja, masalah korupsi sapi yang beredar akhir-akhir ini. Pedagang sayur pasti tau masalah itu. Tapi coba tanyakan si penjual sayur tersebut, tau gak Indonesia pernah meraih medali emas di Olimpiade Matematika Internasional? Atau, tau gak kemarin Ahsan dan Hendra meraih medali emas di ajang Sudirman Cup? Saya ragu-ragu kalau mereka tau semua.
Kalau kata Pak Anies Baswedan, itu adalah efek dari sindrom Collective Pessimism, alias pesimis berjamaah yang melanda di Indonesia akhir-akhir ini. "Pesimis kok berjama'ah?". Tilik saja mulai tayangan televisi yang lebih banyak sinetronnya daripada tayangan yang berkualitas, tayangan berita yang lebih banyak kasus kerusuhan daripada berita prestasi-prestasi anak negeri, hingga tayangan infotainment yang selalu menyuguhkan kisah sedih selebritis dan lain sebagainya yang hampir kesemuanya beraromakan negatif. Hingga efeknya, pola pikir masyarakat pun ikut-ikutan jadi pesimis.
Hal ini tentu menjadi sesuatu yang sangat tidak kita -masyarakat Indonesia- inginkan. Berkutat dengan pesimisme berarti sama dengan mempertahankan, bahkan memperburuk keterpurukan. Siapa coba yang ingin dirinya semakin terpuruk? Dan merubah 180 derajat keadaan tersebut adalah jadi solusi terbaiknya.
Tentunya untuk melakukan perubahan tersebut butuh dukungan penuh dari seluruh masyarakat. Karena pemerintah bukanlah malaikat yang bisa membalikkan keadaan negaranya begitu saja. Butuh dukungan rakyatnya. Jangan katakan "That's your duty!", tapi katakan lah "That's our duty!". Masalah pendidikan, ekonomi, dan sebagainya bukan masalah pemerintah, tapi itu masalah kita, masalah masyarakat Indonesia. Jadi kalau ingin masalahnya selesai, ya kita harus ikut turun tangan.
Menyelesaikan masalah tersebut pun memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh terobosan-terobosan dan usaha yang ekstra dari segenap masyarakat Indonesia. Masalah moral misalnya. Tidak bisa pemerintah hanya membuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang moral-moral bagi rakyatnya, tapi juga butuh dukungan masyarakat untuk menerapkan dan istiqomah terhadap moral-moral tersebut. Masalah pendidikan juga, tidak bisa pemerintah hanya memperbaharui kurikulum begitu saja. Tapi juga butuh peran masyarakat untuk memahami dan menerapkan pentingnya kurikulum tersebut sebagai landasan dalam proses belajar mengajar.
Ya lagi-lagi, "That's our duty, guys!". Siapapun kita, itu masalah kita! Dan pastikan kita berada pada jalur yang benar terhadap permasalahan tersebut. Mengubah Indonesia itu ibarat mengubah arah kemudi kapal tengker yang panjangnya 1 kilometer. Ketika kemudi tersebut kita belokkan, kapal tidak serta merta langsung membelokkan diri, mungkin butuh 3-5 kilometer dulu baru bisa berupah arahnya. Tidak seperti kapal boat yang ketika dibelokkan arahnya, langsung kapalnya belok ke arah yang diinginkan.
Akhirnya, pastikan kita mengubah arah kemudi ke arah yang benar. Mungkin 20 atau 30 tahun lagi kita atau mungkin anak kita yang akan merasakan efek dari perubahan arah kemudi tersebut. Istiqomah dengan perubahan, dan komitmen dengan niat "hijrah" yang kita inginkan jadi kunci utama. Sudah lah, mengeluh itu tidak akan mengubah keadaan, justru sebaliknya. Jadi? Ingin jadi bagian dari sejarah perubahan bangsa Indonesia? Jawabannya ada pada diri kita
Semoga bermanfaat ya.. ^_^
Yup, salah satu judul lagu daerah Papua yang ngetren dengan tarian khasnya. Banyak versi yang dinyanyikan oleh berbagai penyanyi. Terus, kenapa Sajojo? Akhir-akhir ini semenjak ice breaking di kelas yang diiringi lagu Sajojo, entah kenapa rating Sajojo di mata teman-teman angkatan V melonjak drastis. Ditandai dengan seringnya dilantunkan lirik "Sajojo, sajojo. . .", dan diputarnya mp3 Sajojo, lagu yang khas dengan jogetannya itu...
Kalau biasanya postingan dengan label kultwit itu menampilkan kuliah tweet orang, kali ini edisi perdana yang ditampilkan adalah kultwit saya sendiri. Hehehe. Dari judulnya bisa ditebak lah mau ngebahas apa. Intinya, jangan merasa pantas, sebelum memantaskan diri. ^_^ Cekidot nih. Memantaskan diri itu penting! Bahkan lebih penting dari mencari jodoh! Memantaskan diri dalam hal apapun. Itu pentingnya sama kayak makan pas lagi laper banget! ...
Jangan kaget dulu ya karena ngliat kata terakhir judul di atas. Saya bukan pengguna obat-obat terlarang! Sekali lagi saya tegaskan saya bukan pengguna! Terus maksudnya "sakau" apa? Itu hanya kiasan saja bro. Kiasan sebagai efek mabok training dan workshop menulis. Gimana gak mabok, trainingnya 2 hari, dan kalau ditotal jam efektif trainingnya sebanyak 12 jam! Belum pernah terjadi dalam hidup saya. Jadi aja "sakau".
Maksudnya "sakau" itu kurang lebih ya ketagihan lah. Kalau para pengguna obat-obatan terlarang lagi sakau itu kan kurang lebih dia lagi butuh mengkonsumsi obatnya. Kalau nggak dipenuhi kebutuhannya, maka dia akan menunjukkan sikap khas orang sakau, tau sendiri lah yah kayak bagaimana. Hopeless gimanaa gitu. Kayak orang nggak punya gairah hidup. Hehe. Tapi yang saya maksud bukan sikap khasnya itu. Yang saya maksud "sakau" di sini adalah rasa ingin lagi dan lagi yang selalu ditunjukkan oleh orang sakau beneran.
Ya, lagi-lagi karena training menulis dua hari berturut-turut oleh pak Yusuf Maulana yang bener-bener membuat pesertanya dimabuk kepayang oleh menulis. Betapa tidak, entah pakai aji-aji mandra guna apa tu pak Yusuf, yang jelas semenjak training tersebut intensitas untuk menulis meningkat! Ibaratnya sehari tanpa nulis itu rasanya hampa, dan ada rasa bersalah dalam hati. Oh tidaaak. Seperti kena santet aja. :O
Tapi ya gak masalah sih, justru santet yang seperti ini adalah santet yang syariah, dan sakau yang penuh faedah. Hahaha. Syariah karena semakin banyak menulis, semakin bisa menebarkan manfaat kan? Dan penuh faedah karena kredibilitas untuk menuangkan gagasan makin naik levelnya. Sesuatu yang patut disyukuri loh. :-)
Semoga semangat "sakau" ini akan terus ada, dan nggak musiman kayak duren. -_- Katanya mau jadi penulis? Katanya mau nerbitin buku? Nggak masalah blogmu mau dilihat berapa orang pun, yang penting istiqomah nulis, nulis dan nulis. Ntar juga banyak orang yang lihat blogmu. Kuncinya, KONSISTEN! Tersesat boleh. Tapi syaratnya, tersesatlah di jalan yang benar. Hehehe. =D
Semoga bermanfaat ya... ^_^
Maksudnya "sakau" itu kurang lebih ya ketagihan lah. Kalau para pengguna obat-obatan terlarang lagi sakau itu kan kurang lebih dia lagi butuh mengkonsumsi obatnya. Kalau nggak dipenuhi kebutuhannya, maka dia akan menunjukkan sikap khas orang sakau, tau sendiri lah yah kayak bagaimana. Hopeless gimanaa gitu. Kayak orang nggak punya gairah hidup. Hehe. Tapi yang saya maksud bukan sikap khasnya itu. Yang saya maksud "sakau" di sini adalah rasa ingin lagi dan lagi yang selalu ditunjukkan oleh orang sakau beneran.
Ya, lagi-lagi karena training menulis dua hari berturut-turut oleh pak Yusuf Maulana yang bener-bener membuat pesertanya dimabuk kepayang oleh menulis. Betapa tidak, entah pakai aji-aji mandra guna apa tu pak Yusuf, yang jelas semenjak training tersebut intensitas untuk menulis meningkat! Ibaratnya sehari tanpa nulis itu rasanya hampa, dan ada rasa bersalah dalam hati. Oh tidaaak. Seperti kena santet aja. :O
Tapi ya gak masalah sih, justru santet yang seperti ini adalah santet yang syariah, dan sakau yang penuh faedah. Hahaha. Syariah karena semakin banyak menulis, semakin bisa menebarkan manfaat kan? Dan penuh faedah karena kredibilitas untuk menuangkan gagasan makin naik levelnya. Sesuatu yang patut disyukuri loh. :-)
Semoga semangat "sakau" ini akan terus ada, dan nggak musiman kayak duren. -_- Katanya mau jadi penulis? Katanya mau nerbitin buku? Nggak masalah blogmu mau dilihat berapa orang pun, yang penting istiqomah nulis, nulis dan nulis. Ntar juga banyak orang yang lihat blogmu. Kuncinya, KONSISTEN! Tersesat boleh. Tapi syaratnya, tersesatlah di jalan yang benar. Hehehe. =D
Semoga bermanfaat ya... ^_^
Sudah bukan rahasia lagi bagi kita jika Indonesia mempunyai kualitas pendidikan dengan kategori yang rendah dibanding negara-negara Asia lainnya sekaliber Cina, Korea, ataupun Jepang. Berbagai indikator yang menunjukkan rendahnya kualitas pendidikan kita telah ditunjukkan para peneliti di Indonesia, baik dari segi manajemen sistem sampai produk pendidikan itu sendiri. Sehingga mau mengelak bagaimana pun juga, faktanya memang menunjukkan hal seperti itu. Tentunya banyak hal...
Nah loh, bingung kan? Hahaha. Judulnya rada-rada beda sama judul-judul tulisan saya yang lain. Tapi tulisan ini keren loh, ditulis di saat belajar menulis. Kalau kata banyak orang sih emang belajar yang tepat untuk menulis adalah langsung menulis. Right? Lebih keren lagi, ditulis langsung diupload waktu itu juga, kayak streaming aja. Hahaha.
Singkat cerita, tulisan ini adalah produk pikiran saya ketika pak trainer menyuruh untuk menulis dengan beberapa intruksi tertentu. Ada 3 intruksi yang diberikan si bapak. Pertama, disuruh nulis tentang perpisahan seorang bapak angkat bernama pak Yusuf. Perintah kedua, audiens disuruh untuk memberikan pendapat tentang kurikulum 2013. Nah, intruksi terakhir yang rupanya cukup menguras pikiran audiens, termasuk saya dong ya, ialah membuat penghubung antara tulisan pertama dan kedua. Jadi penghubung ini diletakkan di antara tulisan pertama dan ke-dua.
Lucu? Pasti. Ngawur? Tentu. Yaudah lah, ini hasil tulisan saya yang merupakan salah satu kelucuan dari tulisan-tulisan para audiens. Hahaha. Cekidot ya.
Singkat cerita, tulisan ini adalah produk pikiran saya ketika pak trainer menyuruh untuk menulis dengan beberapa intruksi tertentu. Ada 3 intruksi yang diberikan si bapak. Pertama, disuruh nulis tentang perpisahan seorang bapak angkat bernama pak Yusuf. Perintah kedua, audiens disuruh untuk memberikan pendapat tentang kurikulum 2013. Nah, intruksi terakhir yang rupanya cukup menguras pikiran audiens, termasuk saya dong ya, ialah membuat penghubung antara tulisan pertama dan kedua. Jadi penghubung ini diletakkan di antara tulisan pertama dan ke-dua.
Lucu? Pasti. Ngawur? Tentu. Yaudah lah, ini hasil tulisan saya yang merupakan salah satu kelucuan dari tulisan-tulisan para audiens. Hahaha. Cekidot ya.
Bapak, saya tau saya tidak selamanya akan bersama dengan
bapak.
Sedih? Tentu. Karena engkau begitu berjasa dalam mendidik
dan merawat saya selama saya tak punya siapa-siapa.
Bahagia? Bisa jadi. Karena hidup saya harus berjalan ke
depan, dan mungkin inilah momen yang tepat untuk menjalankan masa depan saya.
Bapak, kesedihan akan perpisahan kita mungkin sedikit terobati
dengan apa yang akan saya lakukan untuk masa depan. Ada banyak pekerjaan yang
menuntut saya untuk “belajar merawat Indonesia”. Ialah kurikulum 2013 yang akan
menjadi ladang saya untuk meniti masa depan.
Kurikulum baru yang saat ini banyak jadi momok masyarakat. Kurikulum
yang sesungguhnya bisa jadi memberikan
efek yang sangat dahsyat bagi bangsa Indonesia. Kurikulum yang sejatinya
menjadi prototipe kurikulum-kurikulum masa depan. Karena itu pak, harapan besar
saya untuk dapat merawat Indonesia ada pada kurikulum 2013 ini. Mencoba
memahami, dan ya, setidaknya bisa ikut menyukseskan kiprahnya di belantika
pendidikan Indonesia. Dan semua itu butuh perjuangan pak. Saya rasa sebentar lagi
saya akan merasakan hal yang sama dengan apa yang bapak perjuangkan untuk
merawat dan mendidik saya. . . . .
Kurikulum 2013 menurut saya adalah kurikulum yang agak
dipaksakan ya. Terpaksa karena belum siap diluncurkan, eh, malah tahun ini juga
sudah resmi luncur. Walaupun ya memang belum sepenuhnya. Mungkin baru trial
saja. Persiapan yang belum lengkap seperti penyediaan buku, guru-guru yang
belum sepenuhnya memahami apa isi inti dari 2013 jadi salah satu contoh betapa
belum siapnya si kurikulum menjadi dasar bagi pendidikan di Indonesia ini.
Selain belum siap, rupa-rupanya kurikulum 2013 ini jadi modus proyek bagi
pemerintah, dalam hal ini adalah dinas pendidikan dan kebudayaan. Yah, mumpung
ada anggaran, kenapa tidak digunakan? Jadi aja, bikin program kerja yang penuh
keterpaksaan. Namun begitu, kalau dilihat dari esensi isi kurikulum 2013 ini
memang punya niat yang baik. Menggunakan tema sebagai inti pembelajaran siswa
di sekolah.
Gak lucu yah? Ya emang gitu sih. Hahaha.
Tapi yang penting mah nulis aja. Gak nulis gak seru bro! =D
Kalau notes saya yang dulu http://www.facebook.com/note.php?note_id=83095968538 yang berjudul semangat = bensin ??, bertanya, bagaimana menemukan kembali semangat seperti semudah membeli bensin, mungkin di notes ini adalah salah satu jawabannya... Orang terkadang tidak tahu mengapa dirinya itu bisa menjadi on fire. Dan boleh dikata, ketika seseorang sedang semangat-semangatnya percaya gak percaya berarti dia sedang menemukan kebahagiaannya saat itu juga. Tidak percaya? Buktikan sendiri...!!! Sehingga pada intinya, jika ingin kita...
Aih, meni lama pisan udah lama gak ngepost di blog ini. Ngopo ae kowe rek? Ya kali aja lagi disibukkan sama hal-hal yang memang menguras waktu dan tenaga. Yaudah sih, move on aja. Nulis ya tinggal nulis. Oke, kali ini pengen bahas tentang kuliner. Keknya ini tulisan tentang kuliner pertama saya ya? Eh, atau sebelumnya udah pernah ada ya? Lupa ah. Haha. Intinya...
Masih ingat sama kartun (anime) Dragon Ball? Yang selalu kita jumpai setiap hari Minggu pagi di salah satu stasiun TV yang maskotnya ikan terbang? Kalau yang masa kecilnya indah pasti pernah bahkan selalu mantengin anime tersebut setiap Minggu pagi. Di anime tersebut akan kita jumpai banyak teknologi-teknologi khayalan ala Akira Toriyama (pengarang Dragon Ball), yang mungkin dulu kita pasti bilang WOW. Seperti kapsul...
Gak sengaja mantengin timeline Facebook, ternyata ada salah satu teman saya yang ngeshared postingan suatu blog orang Indonesia yang judulnya "Soal UN Matematika di Perancis". Penasaran kan? Kalian aja penasaran apalagi saya, maka dibukalah postingan tersebut. Dibaca dan diresapi ternyata memang semenarik judulnya. Orang pasti pada tanya-tanya, kalau di Indonesia UN-nya begini, kalau di sana pegimane ya? Prof. Iwan Pranoto Menurut postingan tersebut nih ya,...
Sore-sore abis keujanan emang paling enak yang namanya makan. Alhamdulillah yah, pulang-pulang sudah disediakan makan, walhasil tinggal makan aja dong ya. Ternyata yang disiapin makanannya adalah tumis ayam cak jamur. Wuih, enak? Pasti lah, lah wong ngelih kok.. hehe. Bilangnya sih gak pedes masakannya. Tapi pas dimakan cukup pedes juga. Usul punya usul ternyata saya nglethus irisan cabe yang warna orange. -__-". Cabe Malagueta Ditilik...
Korupsi di Indonesia memang sudah menjamur dan begitu familiar di telinga masyarakatnya. Sangat banyak praktek-praktek korupsi di negeri kita ini yang efeknya sangat merugikan bangsa Indonesia. Sehingga wajar jika demo yang menyatakan kontra dengan praktek-praktek korupsi tersebut terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Bermanfaat? Tentu saja, demo-demo seperti itu ibarat pengawas 'ilegal' yang mengingatkan bahwa perbuatan tersebut memang keji dan merugikan banyak pihak....
Kecanggihan teknologi di era serba gadget seperti sekarang ini sangat memungkinkan untuk manusia semakin mudah mengakses segala sesuatu yang mereka cari. Betapa tidak, tinggal ketik lalu enter, kemudian muncul segala hal yang kita inginkan dari sebuah dunia maya bernama internet. Atau bahkan sekarang hanya tinggal geser dan sentuh, lalu muncul sesuatu yang kita cari. Istimewa? Sangat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa teknologi internet...
Sore tadi, 16 Maret 2013, cukup menyenangkan juga diberi kesempatan buat belajar lebih. Berawal tadi siang selepas agenda named "meeting" persiapan event minggu depan, saya dapet amanah buat menghadiri, entah waktu itu tidak jelas apa nama acaranya, sejenis seminar. Tadinya gak ada rencana, cuman karena si Ibu yang diundang berhalangan hadir, dilimpahkan ke fasilitator lain aja, saya lah yang ketiban. Singkat cerita, persis sebelum...