bayi aja bersyukur.. kita?? Sedikit berbagi ilmu yang saya dapatkan kemarin. Kali ini masih tentang salah satu macam cara berfikir positif. Yaitu bersyukur, atau lebih tepatnya bagaimana cara orang mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Tentu kita tahu bahwa betapa besar nikmat yang Dia berikan. Sampai-sampai dalam Al-Qur’an, Dia pun menantang manusia untuk menghitung nikmat yang telah Dia berikan selama hidup manusia. Pastilah...
Tempat yang enak untuk sekedar kongkow-kongkow dan menghabiskan waktu menurut definisi saya itulah basecamp. Emang paling pas kalau disebut basecamp aja karena kalau di bahasa Indonesia-in jadi “kemah dasar”, jadi wagu kan?. Nongkrong sambil menghilangkan penat, itulah sekiranya fungsi basecamp. Dan tentunya mencoba mencari manfaat di sela-sela waktu bersantai-santai ria. ...
Kalimat itu adalah kalimat yang sering saya tuliskan di CV-CV (Curriculum vitae) pada kolom "moto hidup" di setiap acara. Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa kok motonya begitu. Entah terlalu simpel atau justru malah meaningless. Beberapa juga saya sampaikan alasan singkatnya mengapa kalimat simpel itu jadi moto hidup saya (yang tertulis dalam CV). ...
Mungkin sebagian orang tau, makna (lebih tepatnya wujud) dari kata yang tertulis pada judul di atas. Namun ada juga sebagian orang yang tidak tau juga akan "apa sih green lantern itu??", seperti guwe dan dua ekor binatang teman sepermainan guwe. Dan yang hanya kita tau waktu itu adalah, The green lantern adalah judul pilem (film, red). Itu saja. ...
Petualangan masak-memasak di rumah (dormitory, red) merupakan hal yang tak akan pernah habisnya. Pasalnya, orang mana yang tidak butuh makan setiap harinya? Jelas saja sebagai manusia biasa saya (dan mereka) membutuhkan makanan setiap hari. Dan satu-satunya cara yang paling efektif untuk mengatasi rasa lapar adalah dengan memasak makanan tersebut by our self. Ya, maklum anak rantauan, harus pintar berhemat. Eh, tapi bukan berarti...
Sudah hampir empat bulan saya di sini. Empat bulan yang menurut saya sangat berarti dan lebih dari kata cukup. Ah, tidak hanya cukup, lebih dan bahkan sangat lebih. Sehingga tak ada kata lain selain bersyukur dan terus bersyukur atas segala nikmat ini. Yah, namanya saja rezeki, datangnya selalu tak terduga-duga. Alhamdulillah yah. =) Bukan hanya wujud tempat tinggal saja yang berubah, bahkan lingkungan...
Tomat rasa kurma atau biasa dikenal dengan nama torakor menjadi cemilan favorit warga Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, saat bulan Ramadhan. Rasanya yang legit membuat warga menjadikannya sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa. Menurut perajin torakor Asep Sopari (50), warga Dukuh Wringin, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, di Brebes, Rabu, penjualan panganan berbahan dasar buah tomat tersebut semakin meningkat saat Ramadhan, bahkan hingga usai Lebaran...
Kecamatan Brebes Kecamatan Brebes berada di ujung timur laut Kabupaten Brebes yang terletak di daerah pantai utara yang berbatasn langsung dengan Laut Jawa, sekaligus juga sebagai ibukota Kabupaten Brebes yang terus berkembang menuju kota metropolis. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kota Tegal di timur, Kecamatan Jatibarang di selatan, serta Kecamatan Wanasari di barat. Sebagai daerah perkotaan, sebagian besar kegiatan perekonomian di...
Satu hal lagi yang menarik dari Kabupaten Brebes. Berawal dari obrolan ringan dengan sepupu dan para tetua-tetua yang lain (Ayahanda dan Pakde) membawa saya ke jurang penasaran. Penasaran benarkah adanya seperti itu? Sehingga membuat saya menginginkan menelisik lebih lanjut. Bersama sepupu saya (Lian), telah dilakukan beberapa penelisikan. Dan ternyata dari beberapa penelisikan dan narasumber yang telah ditanyai hampir menunjukkan ke arah yang benar....
Paham, apa makna dibalik sebuah kata tersebut? Simpel, namun bagi saya begitu kompleks. Alasannya? Karena cukup sulit untuk bisa menggapai kata tersebut. Tahu saja tidak cukup, butuh paham untuk menyikapinya.
Ada sedikit kasus menarik yang mungkin akan memberikan beberapa alasan kenapa kata tersebut begitu kompleks. Kasus ini baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu (dan sepertinya masih terjadi sampai sekarang). Mungkin akan ada beberapa sensor karena menyangkut hal-hal berbau ghibah. Menghindari kemudhorotan. Hehehe.
Kita sebut saja kasus ini dengan #pemahaman. Pemahaman akan suatu hal yang akhir-akhir ini saya alami. Mungkin ini berawal dari terlalu banyaknya saya melihat berbagai warna. Warna yang muncul di setiap permukaan di mana saya terlibat. Betapa tidak, faktor lingkungan mungkin sedikit banyak mempengaruhi #pemahaman seseorang. Contoh simpelnya ya saya ini. Dari hitam sampai putih, dari gelap sampai terang pernah saya jumpai semua (eh kayaknya belum semua, masih banyak yang belum pernah terjamah). Ya, setidaknya mempengaruhi kekomplekisitas tersebut.
Setiap orang tidak mempunyai pemahaman yang sama akan semua hal. Itu benar. Namun tidak setiap orang mempunyai pemahaman yang sama akan suatu hal. Contohnya seperti #pemahaman ini. Segelintir orang menyikapi #pemahaman dengan A. Segelintir yang lain menyikapinya dengan B. Namun juga ada beberapa yang menyikapinya dengan C. Sehingga dimungkinkan semakin banyak kepala semakin banyak cara orang menyikapi sebuah pemahaman. Akan tetapi seberapa banyak pun cara, tentunya ada yang paling baik. Dan sebagai orang yang termasuk dalam golongan (golongan putih, red) harusnya percaya akan hal ini. Termasuk saya.
Perjalanan menuju dewasa dengan liku-liku yang ada yang telah saya tempuh, ternyata belum cukup untuk menemukan sebuah kebenaran akan #pemahaman. Mungkin terlalu banyak liku-liku atau apalah namanya yang membuat #pemahaman saya belum cukup. Sehingga, rasa penasaran, pasti ya, mungkin tak akan terhenti sampai kebenaran itu ditemukan."Apa yang kamu yakini, itulah yang benar". Lah kalau meyakini sesuatu yang salah apa bisa disebut benar? Itulah kenapa proses mencari kebenaran itu butuh energi ekstra (bagi saya sih, tidak tahu bagi yang lain).
Perbedaan lingkungan, jelas sangat mempengaruhi. Mempengaruhi bagaimana mereka menyikapi #pemahaman ini. Dan inilah satu alasan lagi mengapa proses mencari kebenaran itu begitu panjang mengingat saya adalah makhluk amfibi. Hehehe.
Bagaimana pun tetap, pasti ada kebenaran tersebut. Sampai akhirnya penyikapan terhadap #pemahaman menemui ujungnya. Bukankah diantara yang baik-baik pasti ada yang terbaik? Begitu pula yang buruk-buruk, pasti ada juga yang terbaik. Dan meskipun itu terbaik menurut golongan mereka, belum tentu itu terbaik bagi golongan yang lain. Namun tetap juga, diantara yang terbaik-terbaik, pasti ada terbaik global. Teoremanya, kalau ada maksimum lokal, pasti ada maksimum global kan? Hehehe. Sehingga mungkin orang yang pada taraf terbaik global inilah yang mendapat kebenaran tersebut. Kebenaran yang pada akhirnya kita sebut orang yang paham. Termasuk dalam #pemahaman ini.
Pada taraf sekarang ini mungkin saya belum menemukan kata paham terhadap #pemahaman tersebut. Namun setidaknya kini saya telah diingatkan (terimakasih untuk yang telah memperingatkan =)). Diingatkan sehingga proses pencarian kebenaran tersebut terus berlanjut. Proses menuju paham iis must go on. Proses menuju sebuah kebenaran yang hakiki oleh golongan kita, golongan putih.
Dan pada akhirnya, hanya tahu saja tidak cukup, butuh paham untuk bersikap. Sebagai golongan putih bukankah kita dituntut untuk menjadi golongan yang kaffaah? Golongan yang sempurna dalam pemahamannya. Golongan yang selalu mencari terbaik global dalam setiap pemahamannya. Golongan yang selalu punya kebenaran yang mutlak.
Pahami dan yakini. InsyaAllah. =)
Ada sedikit kasus menarik yang mungkin akan memberikan beberapa alasan kenapa kata tersebut begitu kompleks. Kasus ini baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu (dan sepertinya masih terjadi sampai sekarang). Mungkin akan ada beberapa sensor karena menyangkut hal-hal berbau ghibah. Menghindari kemudhorotan. Hehehe.
Kita sebut saja kasus ini dengan #pemahaman. Pemahaman akan suatu hal yang akhir-akhir ini saya alami. Mungkin ini berawal dari terlalu banyaknya saya melihat berbagai warna. Warna yang muncul di setiap permukaan di mana saya terlibat. Betapa tidak, faktor lingkungan mungkin sedikit banyak mempengaruhi #pemahaman seseorang. Contoh simpelnya ya saya ini. Dari hitam sampai putih, dari gelap sampai terang pernah saya jumpai semua (eh kayaknya belum semua, masih banyak yang belum pernah terjamah). Ya, setidaknya mempengaruhi kekomplekisitas tersebut.
Setiap orang tidak mempunyai pemahaman yang sama akan semua hal. Itu benar. Namun tidak setiap orang mempunyai pemahaman yang sama akan suatu hal. Contohnya seperti #pemahaman ini. Segelintir orang menyikapi #pemahaman dengan A. Segelintir yang lain menyikapinya dengan B. Namun juga ada beberapa yang menyikapinya dengan C. Sehingga dimungkinkan semakin banyak kepala semakin banyak cara orang menyikapi sebuah pemahaman. Akan tetapi seberapa banyak pun cara, tentunya ada yang paling baik. Dan sebagai orang yang termasuk dalam golongan (golongan putih, red) harusnya percaya akan hal ini. Termasuk saya.
Perjalanan menuju dewasa dengan liku-liku yang ada yang telah saya tempuh, ternyata belum cukup untuk menemukan sebuah kebenaran akan #pemahaman. Mungkin terlalu banyak liku-liku atau apalah namanya yang membuat #pemahaman saya belum cukup. Sehingga, rasa penasaran, pasti ya, mungkin tak akan terhenti sampai kebenaran itu ditemukan."Apa yang kamu yakini, itulah yang benar". Lah kalau meyakini sesuatu yang salah apa bisa disebut benar? Itulah kenapa proses mencari kebenaran itu butuh energi ekstra (bagi saya sih, tidak tahu bagi yang lain).
Perbedaan lingkungan, jelas sangat mempengaruhi. Mempengaruhi bagaimana mereka menyikapi #pemahaman ini. Dan inilah satu alasan lagi mengapa proses mencari kebenaran itu begitu panjang mengingat saya adalah makhluk amfibi. Hehehe.
Bagaimana pun tetap, pasti ada kebenaran tersebut. Sampai akhirnya penyikapan terhadap #pemahaman menemui ujungnya. Bukankah diantara yang baik-baik pasti ada yang terbaik? Begitu pula yang buruk-buruk, pasti ada juga yang terbaik. Dan meskipun itu terbaik menurut golongan mereka, belum tentu itu terbaik bagi golongan yang lain. Namun tetap juga, diantara yang terbaik-terbaik, pasti ada terbaik global. Teoremanya, kalau ada maksimum lokal, pasti ada maksimum global kan? Hehehe. Sehingga mungkin orang yang pada taraf terbaik global inilah yang mendapat kebenaran tersebut. Kebenaran yang pada akhirnya kita sebut orang yang paham. Termasuk dalam #pemahaman ini.
Pada taraf sekarang ini mungkin saya belum menemukan kata paham terhadap #pemahaman tersebut. Namun setidaknya kini saya telah diingatkan (terimakasih untuk yang telah memperingatkan =)). Diingatkan sehingga proses pencarian kebenaran tersebut terus berlanjut. Proses menuju paham iis must go on. Proses menuju sebuah kebenaran yang hakiki oleh golongan kita, golongan putih.

Pahami dan yakini. InsyaAllah. =)
Kata siapa Brebes itu tidak indah? Kata siapa Brebes itu hanya termasyhur karena telur asin dan bawang merahnya. Dan kata siapa Brebes tidak punya tempat rekreasi? Semua itu salah besar!!! Saya ulangi salah besar!!! Kabupaten Brebes, salah satu kota yang berada di kawasan Pantura ternyata memiliki seabrek panorama keindahan. Kabupaten yang terletak di sebelah timur Kota Cirebon ini tidak hanya mempunyai perkebunan sawah...
Setiap manusia pastilah punya keinginan dan cita-cita. Bermacam-macam keinginan dan bermacam-macam pula cita-cita yang mereka punya dan ingin diwujudkan. Tergantung orangnya. Ups, bukan tergantung, tapi bergantung pada orangnya. Dan tak elak pula keinginan itu bisa jadi sungguh hampir tidak terbatas. Ketika satu keinginan telah terwujud, keinginan-keinginan lain pun muncul. Seakan mencerminkan ketidak puasanmanusia akan sesuatu. Yah begitulah manusia. Tapi tak apa, justru dengan...
Transportasi Ibukota kabupaten Brebes terletak sekitar 177 km sebelah barat Kota Semarang, atau 330 km sebelah timur Jakarta. Kabupaten ini dilalui jalur pantura, dan menjadi pintu masuk utama Jawa Tengah di sisi barat dari arah Jakarta/Cirebon, sehingga Brebes memiliki posisi yang cukup strategis. Selain itu, juga terdapat jalan provinsi sebagai jalur alternatif menuju ke kota-kota di Jawa Tengah bagian selatan seperti Purwokerto, Kebumen,...
Dengan bangga saya tuliskan beberapa informasi mengenai Kabupaten Brebes. Dan tulisan ini adalah edisi yang pertama. Dalam edisi Kabupaten Brebes ini tentunya saya banyak mengutip dari berbagai sumber yang (insyaAllah) terpercaya. Tujuannya? Ya sudah jelas untuk memberikan beberapa informasi yang mungkin jarang orang tahu, khususnya bagi warga Brebes sendiri (orang Brebes aja nggak tau apalagi yang bukan) maupun warga di luar Brebes. Semoga...
Berawal dari twit salah seorang adik angkatan yang menyebutkan kata yang tidak saya mengerti artinya. Kurang lebih begini yang dia katakan " kan pake cempal "... Yap, "cempal". Opo kuwi?? Belum pernah tau dan belum pernah dengar. Sehingga rasa penasaran saya membuat the power of kepepet untuk mencari tau di mbah google. Awalnya saya mengira "cempal" adalah sejenis perkakas yang terbuat dari logam...
Bagi sebagian orang Jogja tentu sudah tidak asing lagi dengan Jembatan Sardjito II. Atau lebih dikenal orang jembatan Pogung/Teknik. Jembatan yang terletak di sebelah barat Fakultas Teknik UGM ini bisa dibilang bangunan baru yang baru di rilis sekitar awal tahun 2009. Boleh dibilang jembatan ini merupakan shortcut antara jalan kaliurang dan jalan monjali yang sebelumnya harus melewati Jalan AM Sangaji atau Ringroad Utara....
Heart versus duty. Itu cerita yang terdahulu. Sekarang sudah ganti judulnya jadi, heart versus faith. Begitupun benang merahnya tetap sama. Dan dari dulu ceritanya selalu begitu. Ya beda dikit lah, sebelas duabelas. Agak aneh memang kalau saya pikir-pikir. Namun mau bagaimana lagi. Begitulah kisah, pasti ada klimaksnya. Maybe I like a jackass. Sometimes falls on the same hole. And I rarely draw a...
Ibaratnya beras yang sudah menjadi bubur yang tak akan pernah kembali menjadi nasi. Kalau sudah terjadi ya sudah terjadi. Tinggal bagaimana menjadikan si bubur tersebut menjadi bubur ayam spesial yang rasanya jauh lebih enak dari nasi. Nah, itulah permasalahannya. Beberapa hari yang lalu sebuah "batu" besar menimpa kepala saya, tapi herannya kepala saya tidak benjut sama sekali. Kenapa ya? Hehehe. Ya karena batunya...