Seperti janji saya pada postingan sebelumnya di Pulau Salissingan , saya akan menceritakan betapa hectic-nya perjalanan menuju pulau kecil dari Kepulauan Bala-balakang ini.
Untuk menuju ke pulau tersebut, satu-satunya akses termudah adalah kita bertolak dari Kota Balikpapan. Di benak saya mengira akan ada kapal penumpang yang membawa saya menuju ke sana. Telisik punya telisik, setelah mendapatkan info dari beberapa narasumber, ternyata tidak ada transportasi umum yang rutin setiap waktu dari Balikpapan menuju ke Pulau Salissingan, baik itu kapal penumpang maupun speed boat. Barangkali karena sedikitnya frekuensi minat masyarakat yang akan melakukan perjalanan, sehingga tidak ada perusahaan transportasi yang membuka jalur pelayaran ke sana.
Satu-satunya alat transportasi menuju ke sana yang sering digunakan oleh penduduk setempat adalah, kapal nelayan. Iya, kapal-kapal pembawa ikan. Kapal-kapal tersebut merupakan kapal yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan perseorangan untuk menangkap ikan yang berada di sekitar pulau di Kepulauan Bala-balakang. Ini loh salah satu penampakan kapalnya.
Mustahil kita menuju ke Salissingan tanpa adanya kenalan pemilik kapal maupun nahkoda kapal. Ketika itu diantarlah saya oleh salah satu pemberi tugas ke rumah salah satu pemilik kapal. Namanya Bapak Bayu. Bapak Bayu itu semacam panggilan orang Bugis, yang berarti bapaknya anak yang bernama Bayu. Kalau nama aslinya saya lupa nanyain. hehehe. Beliau adalah seorang nelayan pemilik perusahaan penangkap ikan yang punya tempat tinggal di Balikpapan maupun di Pulau Salissingan.
Jadwal kapal-kapal ke pulau juga beragam. Kalau Bapak Bayu seringnya berangkat dua kali seminggu, yaitu setiap Sabtu malam dan Selasa malam. Biasanya mereka mulai berlayar sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Jadwal akan berlaku jika cuacanya memungkinkan untuk berlayar. Kalau cuaca sedang tidak bersahabat, mereka rela menunda hingga tengah malam baru berangkat atau keesokan harinya baru berangkat.
Sayang beribu sayang, ketika itu saya gagal naik kapal Bapak Bayu. Cuaca buruk jadi salah satu alasannya. Saat itu awan setempat terlihat sangat gelap. Jadwal yang tadinya akan berangkat pukul 18.00, oleh Bapak Bayu sorenya dikonfirmasi kapal ditunda keberangkatannya. Beliau tidak mengatakan tepatnya jam berapa akan berangkat, tergantung kondisi cuaca.
Singkat cerita kami ketiduran ketika menunggu konfirmasi keberangkatan oleh Bapak Bayu. Jam 2 dini hari saya terbangun dan melihat ada satu panggilan tak terjawab dari Bapak Bayu di HP saya. Kami bergegas menuju ke rumah Bapak Bayu yang jaraknya sekitar 30 menit dari tempat kami bermalam. Sesampainya di sana, tertinggal sudah. Kapal Bapak Bayu dan krunya berangkat sudah. :(
Mencoba menggali informasi dari tetangga-tetangga dan keluarga Bapak Bayu, kami pun menemukan jalan lain menuju Salissingan. Kami akan berangkat bersama sepupu dari Bapak Bayu yang akan berlayar menggunakan kapal pak Linggar. Namun jadwalnya baru akan berangkat esok lusa.
Kapal-kapal yang menuju Salissingan ini hanya bisa kita temui di barisan pelabuhan Kampung Baru Balikpapan. Pelabuhan ini juga merupakan pelabuhan tempat angkutan umum spead boat mangkal. Tapi nggak ada sepid yang jurusan Salissingan.
Tiba saat kami untuk bertolak ke pulau. Saat itu kami menunggu di pelabuhan dari pukul 18.00. Akhirnya kapal baru berangkat pukul 22.00 waktu setempat. Di luar dugaan, penumpang yang akan berlayar ke pulau ternyata cukup banyak. Kecilnya dek kapal membuat cukup mustahil untuk ditempati orang sebanyak itu. Belum lagi barang-barang bawaan para penumpang yang jika dibandingkan banyaknya penumpang 1 banding 2. Beberapa penumpang pun terpaksa menggunakan bagian atap kapal sebagai tempat duduk selama perjalanan menuju pulau. Karena memprioritaskan ibu dan anak untuk duduk di dalam kapal, kami pun terpaksa untuk duduk di atas.
Sempat tidak percaya akan kenyataan ini. Ditambah sejumlah pertanyaan-pertanyaan di benak saya, "Serius duduk di atas terus kayak gini?", "ini kalau hujan gimana?", "kalau ada sesuatu yang nyamber-nyamber di tengah laut gimana?". Akhirnya dengan meyakinkan diri semua akan baik-baik saja, dan dengan melihat orang lain juga banyak yang bernasib sama dengan saya, mantaplah hati saya untuk berangkat. Bon voyage!
Sembari ngobrol dengan para penumpang yang lain, saya lihat awan memang cukup cerah. Saat itu yang paling dikhawatirkan adalah hujan. Akan rempong sana sini kalau hujan turun. Tapi keadaan penumpang lain lagi-lagi membuat saya cukup tenang menghadapi resiko-resiko tersebut. Mereka aja kalem-kalem aja, buat apa saya kawatir, kan? Yang harus dipikirkan sekarang adalah gimana caranya saya bisa tidur.
Baru satu jam berlayar rasanya sudah bosan melihat-lihat pemandangan malam laut Balikpapan. Isinya cuman kapal-kapal besar milik perusahaan-perusahaan minyak yang lagi mangkal. Saya pun berniat untuk segera tidur. Melihat sekitar tempat saya duduk, sepertinya memang cukup memungkinkan untuk berbaring. Dengan tas ransel saya sebagai bantal, jaket yang cukup tebal, saya pun tidur dengan cukup nyaman. Angin laut yang cukup membuat telinga saya dingin, saya antisipasi dengan menutupi kepala dengan handuk.
Pukul 3 dini hari saya pun terbangun, dan belum sedikit pun tanda-tanda akan sampai ke pulau nampak. Masih di tengah laut. Gelap. Hanya lampu kapal 5 watt yang menyinari sebagian badan kapal saja yang terlihat. Penumpang lain pun sepertinya masih nyenyak tidur. Hanya ada satu orang yang terbangun untuk sekedar minum air. Udara dingin semakin menusuk ke tubuh. Rasa ingin buang air kecil pun mulai muncul. Saya hanya duduk menatap sekitar kapal sampai bosen. Entah lah apa yang saat itu saya fikirkan.
Pukul 5 pagi, saat mentari mulai memunculkan dirinya. Cakrawala mulai tampak, burung-burung berterbangan menambah hiasan indah pagi hari di tengah laut. Semua penumpang di atas kapal pun sudah membangunkan dirinya. Cukup membahagiakan sih. Setidaknya saya jadi ada teman untuk ngobrol. hehehe. Saat itu juga sudah mulai terlihat pulau kecil yang kalau kata teman ngobrol saya bernama pulau Kebun Durian. Entah kenapa namanya kek gitu, padahal nggak ada sama sekali pohon durennya. -_-
Sempat mampir untuk ke pulau Kebun Durian, kemudian lanjut perjalanan, kekhawatiranku pun mulai tampak nyata. Awan mendung mulai menyelimuti langit di atas kapal, tanda akan segera jatuh air hujan.
Sempat rempong sana sini, kejadian yang tak terduga pun terjadi. Ibu-ibu penumpang yang duduk di samping saya yang ternyata mereka berkeluarga, segera memasang terpal yang mereka bentuk semacam tenda. Dengan modal tali yang melintang sepanjang atap kapal, mereka berteduh di bawah terpal tersebut. Kami pun ikut berteduh. Hujan yang diiringi dengan angin dan kecepatan kapal, membuat air tetap bisa menembus bagian pinggir 'tenda darurat' di atas kapal sehingga yang berteduh di pinggiran tenda tetap basah.
Hingga hujan reda, pulau Salissingan pun mulai jelas menampakkan seluruh badannya. Beberapa penumpang mempersiapkan diri dan barang-barangnya untuk dibawa ke pulau. Penumpang yang berteduh segera keluar dari tendanya. Suasana mendung berubah ceria. Penantian panjang lebih dari 9 jam akan segera berakhir.
Sekitar pukul 8 pagi, kapal pun berhenti dan menurunkan jangkar di area kurang lebih 300 meter dari bibir pantai. Selanjutnya para penumpang menggunakan perahu ketinting untuk mendarat menuju pulau. Cukup lama menunggu giliran kami naik ketinting karena saat itu hanya 2 perahu yang beroperasii dan setiap perahu hanya bisa mengangkut 3-4 orang.
Sebelum mendarat, pose dulu lahh.. hehehe
Nah, itu dia guys perjalanan menuju pulau Salissingan. Ngeri? Nggak juga sih. Lamaaaa! Bikin bete kalau kita gak bisa menemukan kegiatan yang bisa menghilangkan kejenuhan kita. Terus yang bikin gak enak itu nahan buang air kecilnya itu. >,<
Ini baru berangkatnya aja sih. Lebih nyeremin pulangnya. Ntar cerita lagi. Setelah ini cerita keunikan di dalem pulaunya dulu deh. Jaa naa..
Untuk menuju ke pulau tersebut, satu-satunya akses termudah adalah kita bertolak dari Kota Balikpapan. Di benak saya mengira akan ada kapal penumpang yang membawa saya menuju ke sana. Telisik punya telisik, setelah mendapatkan info dari beberapa narasumber, ternyata tidak ada transportasi umum yang rutin setiap waktu dari Balikpapan menuju ke Pulau Salissingan, baik itu kapal penumpang maupun speed boat. Barangkali karena sedikitnya frekuensi minat masyarakat yang akan melakukan perjalanan, sehingga tidak ada perusahaan transportasi yang membuka jalur pelayaran ke sana.
Satu-satunya alat transportasi menuju ke sana yang sering digunakan oleh penduduk setempat adalah, kapal nelayan. Iya, kapal-kapal pembawa ikan. Kapal-kapal tersebut merupakan kapal yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan perseorangan untuk menangkap ikan yang berada di sekitar pulau di Kepulauan Bala-balakang. Ini loh salah satu penampakan kapalnya.
![]() |
| Kapal Nelayan ke Salissingan |
Jadwal kapal-kapal ke pulau juga beragam. Kalau Bapak Bayu seringnya berangkat dua kali seminggu, yaitu setiap Sabtu malam dan Selasa malam. Biasanya mereka mulai berlayar sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Jadwal akan berlaku jika cuacanya memungkinkan untuk berlayar. Kalau cuaca sedang tidak bersahabat, mereka rela menunda hingga tengah malam baru berangkat atau keesokan harinya baru berangkat.
Sayang beribu sayang, ketika itu saya gagal naik kapal Bapak Bayu. Cuaca buruk jadi salah satu alasannya. Saat itu awan setempat terlihat sangat gelap. Jadwal yang tadinya akan berangkat pukul 18.00, oleh Bapak Bayu sorenya dikonfirmasi kapal ditunda keberangkatannya. Beliau tidak mengatakan tepatnya jam berapa akan berangkat, tergantung kondisi cuaca.
Singkat cerita kami ketiduran ketika menunggu konfirmasi keberangkatan oleh Bapak Bayu. Jam 2 dini hari saya terbangun dan melihat ada satu panggilan tak terjawab dari Bapak Bayu di HP saya. Kami bergegas menuju ke rumah Bapak Bayu yang jaraknya sekitar 30 menit dari tempat kami bermalam. Sesampainya di sana, tertinggal sudah. Kapal Bapak Bayu dan krunya berangkat sudah. :(
Mencoba menggali informasi dari tetangga-tetangga dan keluarga Bapak Bayu, kami pun menemukan jalan lain menuju Salissingan. Kami akan berangkat bersama sepupu dari Bapak Bayu yang akan berlayar menggunakan kapal pak Linggar. Namun jadwalnya baru akan berangkat esok lusa.
Kapal-kapal yang menuju Salissingan ini hanya bisa kita temui di barisan pelabuhan Kampung Baru Balikpapan. Pelabuhan ini juga merupakan pelabuhan tempat angkutan umum spead boat mangkal. Tapi nggak ada sepid yang jurusan Salissingan.
![]() |
| Pelabuhan Kampung Baru |
Sempat tidak percaya akan kenyataan ini. Ditambah sejumlah pertanyaan-pertanyaan di benak saya, "Serius duduk di atas terus kayak gini?", "ini kalau hujan gimana?", "kalau ada sesuatu yang nyamber-nyamber di tengah laut gimana?". Akhirnya dengan meyakinkan diri semua akan baik-baik saja, dan dengan melihat orang lain juga banyak yang bernasib sama dengan saya, mantaplah hati saya untuk berangkat. Bon voyage!
Sembari ngobrol dengan para penumpang yang lain, saya lihat awan memang cukup cerah. Saat itu yang paling dikhawatirkan adalah hujan. Akan rempong sana sini kalau hujan turun. Tapi keadaan penumpang lain lagi-lagi membuat saya cukup tenang menghadapi resiko-resiko tersebut. Mereka aja kalem-kalem aja, buat apa saya kawatir, kan? Yang harus dipikirkan sekarang adalah gimana caranya saya bisa tidur.
Baru satu jam berlayar rasanya sudah bosan melihat-lihat pemandangan malam laut Balikpapan. Isinya cuman kapal-kapal besar milik perusahaan-perusahaan minyak yang lagi mangkal. Saya pun berniat untuk segera tidur. Melihat sekitar tempat saya duduk, sepertinya memang cukup memungkinkan untuk berbaring. Dengan tas ransel saya sebagai bantal, jaket yang cukup tebal, saya pun tidur dengan cukup nyaman. Angin laut yang cukup membuat telinga saya dingin, saya antisipasi dengan menutupi kepala dengan handuk.
Pukul 3 dini hari saya pun terbangun, dan belum sedikit pun tanda-tanda akan sampai ke pulau nampak. Masih di tengah laut. Gelap. Hanya lampu kapal 5 watt yang menyinari sebagian badan kapal saja yang terlihat. Penumpang lain pun sepertinya masih nyenyak tidur. Hanya ada satu orang yang terbangun untuk sekedar minum air. Udara dingin semakin menusuk ke tubuh. Rasa ingin buang air kecil pun mulai muncul. Saya hanya duduk menatap sekitar kapal sampai bosen. Entah lah apa yang saat itu saya fikirkan.
![]() |
| Penumpang Kapal Bangun Pagi |
Sempat mampir untuk ke pulau Kebun Durian, kemudian lanjut perjalanan, kekhawatiranku pun mulai tampak nyata. Awan mendung mulai menyelimuti langit di atas kapal, tanda akan segera jatuh air hujan.
![]() |
| Awan Mendung di Perjalanan ke Salissingan |
Hingga hujan reda, pulau Salissingan pun mulai jelas menampakkan seluruh badannya. Beberapa penumpang mempersiapkan diri dan barang-barangnya untuk dibawa ke pulau. Penumpang yang berteduh segera keluar dari tendanya. Suasana mendung berubah ceria. Penantian panjang lebih dari 9 jam akan segera berakhir.
![]() |
| Pulau Salissingan Terliha dari Kapal |
Sebelum mendarat, pose dulu lahh.. hehehe
Nah, itu dia guys perjalanan menuju pulau Salissingan. Ngeri? Nggak juga sih. Lamaaaa! Bikin bete kalau kita gak bisa menemukan kegiatan yang bisa menghilangkan kejenuhan kita. Terus yang bikin gak enak itu nahan buang air kecilnya itu. >,<
Ini baru berangkatnya aja sih. Lebih nyeremin pulangnya. Ntar cerita lagi. Setelah ini cerita keunikan di dalem pulaunya dulu deh. Jaa naa..
Setelah Nunukan dan Kubu Raya, kali ini giliran dapet kesempatan buat blusukan ke Kabupaten Mamuju. Bukan blusukan deng tepatnya, tapi adventuring broh. Kan katanya "My Trip, My Adventure". hehehe
Tapi ini bukan dalam rangka acara-acara TV swasta itu loh ya. Kali ini saya dapat tugas dari tempat saya bekerja untuk asesmen pulau ini dengan segala macam keberagaman isinya. Seru? Banget!
Kalau dengan Mamuju mungkin sudah biasa atau seenggaknya pernah denger lah ya. Yang ini gak biasa! Saya juga baru denger setelah mendapat tugas suci ini. Kala itu agak ngeri juga dengerin spoiler yang disampaikan si pemberi tugas akan pulau ini. Tapi tetep, maju aja! Tanggal 25 saya dan satu rekan saya resmi berangkat ke sana! Bon Voyage!
Yap, namanya Pulau Salissingan! Salah satu pulau dari kepulauan-kepulauan yang ada di Kabupaten Mamuju. Nih penampakannya.
Pulau ini bener-bener gak terkenal loh. Sampai saya nanya sama orang Mamuju yang tinggal di pusat Kabupaten aja gak ngerti. Padahal kan masih satu Kabupaten? Harusnya kalau terkenal dia tau kan keberadaan pulau itu?
Ternyata memang letak pulau ini jauh dari pusat peradaban Mamuju. Salissingan adalah pulau paling barat dari Kab. Mamuju. Berbatasan langsung dengan batas timur wilayah Kalimantan Timur. Pulau ini merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Bala-balakang yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mamuju. Justru pulau ini dekat dengan Kota Balikpapan. Tapi sedekat-dekatnya ya tetep jauh juga deng. -_-
Secara administratif pulau ini memang milik Kabupaten mamuju. Namun secara de facto, masyarakat pulau ini bergantung sama Balikpapan, pusat peradaban terdekat. Kebutuhan pokok orang pulau mereka dapatkan dari salah satu Kota di Kaltim ini. Ya, bukan kenapa-kenapa, satu-satunya alasan ya karena akses terdekatnya ke situ. Kalau dibandingkan ke Balikpapan dengan ke Mamuju perbandingan aksesnya 1:3 lah. Baik dari segi jarak, waktu dan biaya. Lagian kalau dari pulau menuju ke Mamuju, jalur terbaik dan teramannya juga memang harus lewat Balikpapan dulu deng. hehe
Selanjutnya saya akan cerita tentang perjalanan menuju ke sana ya. Karena pulaunya gak biasa, perjalanannya juga gak biasa dong ya. Don't miss it! :)
Tapi ini bukan dalam rangka acara-acara TV swasta itu loh ya. Kali ini saya dapat tugas dari tempat saya bekerja untuk asesmen pulau ini dengan segala macam keberagaman isinya. Seru? Banget!
Kalau dengan Mamuju mungkin sudah biasa atau seenggaknya pernah denger lah ya. Yang ini gak biasa! Saya juga baru denger setelah mendapat tugas suci ini. Kala itu agak ngeri juga dengerin spoiler yang disampaikan si pemberi tugas akan pulau ini. Tapi tetep, maju aja! Tanggal 25 saya dan satu rekan saya resmi berangkat ke sana! Bon Voyage!
Yap, namanya Pulau Salissingan! Salah satu pulau dari kepulauan-kepulauan yang ada di Kabupaten Mamuju. Nih penampakannya.
![]() |
| Pulau Salissingan |
Ternyata memang letak pulau ini jauh dari pusat peradaban Mamuju. Salissingan adalah pulau paling barat dari Kab. Mamuju. Berbatasan langsung dengan batas timur wilayah Kalimantan Timur. Pulau ini merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Bala-balakang yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mamuju. Justru pulau ini dekat dengan Kota Balikpapan. Tapi sedekat-dekatnya ya tetep jauh juga deng. -_-Secara administratif pulau ini memang milik Kabupaten mamuju. Namun secara de facto, masyarakat pulau ini bergantung sama Balikpapan, pusat peradaban terdekat. Kebutuhan pokok orang pulau mereka dapatkan dari salah satu Kota di Kaltim ini. Ya, bukan kenapa-kenapa, satu-satunya alasan ya karena akses terdekatnya ke situ. Kalau dibandingkan ke Balikpapan dengan ke Mamuju perbandingan aksesnya 1:3 lah. Baik dari segi jarak, waktu dan biaya. Lagian kalau dari pulau menuju ke Mamuju, jalur terbaik dan teramannya juga memang harus lewat Balikpapan dulu deng. hehe
Selanjutnya saya akan cerita tentang perjalanan menuju ke sana ya. Karena pulaunya gak biasa, perjalanannya juga gak biasa dong ya. Don't miss it! :)
Hampir setahun nggak nulis itu rasanya gimanaa gitu ya. Bercita-cita ingin menerbitkan setidaknya satu buku, malah kenyataanya update tulisan di blog aja ogah-ogahan. Gimana sih? hehehe
Tapi semua itu bukannya tanpa alasan. Mari kita analisis satu per satu beberapa penyebabnya. (lebih tepatnya alibi) hehe
Pertama, terakhir kalinya nulis di blog itu bulan Juni tahun lalu. Di mana bulan-bulan setelahnya merupakan agenda padat mempersiapkan hari pernikahan. *uhuuyyy*. Menyiapkan ini itu, pernak pernik, tetek bengek, agar semuanya berlangsung seperti yang diinginkan. Yah, itu semua cukup menyita waktu dan kesibukan yang tidak sedikit.
Kedua, saya akui memang akhir-akhir ini jarang baca buku dan diskusi produktif. Sudah hampir satu tahun, nyaris tidak ada satu pun buku yang khatam. Paling hanya dibaca beberapa bab saja, terus bosen, terus berhenti. Jadi saja informasi yang diperoleh tidak seutuhnya diserap dan dicerna oleh otak. Konsistensi membaca buku ini yang kemudian menjadi tantangan saya mulai dari sekarang sampai selanjutnya. Hahaha.
Diskusi produktif yang jarang dilakukan juga membuat otak semakin kering akan ide dan gagasan. Kalau dulu hampir setiap minggu suka bikin diskusi ringan, tapi cukup produktif bareng temen-temen kalau pas lagi makan, atau ngobrol-ngobrol biasa. Tapi entah kenapa, semakin kesini semakin jarang.
Dari beberapa alasan di atas, mungkin sejatinya dua alasan terakhir yang paling menguatkan kenapa jadi males nulis. Membaca dan diskusi! Menambah referensi argumen, memperkaya khazanah ide, itu semua tak akan bisa terwujud kalau kita jarang baca dan diskusi. Hampir tidak ada seorang penulis yang jarang membaca. Hampir tidak ada orang yang pintar berargumen kalau dia jarang diskusi. Keduanya terintegrasi dan saling menguatkan.
Boleh jadi, tulisan ini terlihat kering, dan gak renyah sekali dibacanya, mungkin karena dua alasan di atas.
Jadi, baca, baca dan baca!
Berharap tulisan ini mengawali semangat untuk konsisten menulis. Semoga istiqomah ya guys! :)
Tapi semua itu bukannya tanpa alasan. Mari kita analisis satu per satu beberapa penyebabnya. (lebih tepatnya alibi) hehe
Pertama, terakhir kalinya nulis di blog itu bulan Juni tahun lalu. Di mana bulan-bulan setelahnya merupakan agenda padat mempersiapkan hari pernikahan. *uhuuyyy*. Menyiapkan ini itu, pernak pernik, tetek bengek, agar semuanya berlangsung seperti yang diinginkan. Yah, itu semua cukup menyita waktu dan kesibukan yang tidak sedikit.
Kedua, saya akui memang akhir-akhir ini jarang baca buku dan diskusi produktif. Sudah hampir satu tahun, nyaris tidak ada satu pun buku yang khatam. Paling hanya dibaca beberapa bab saja, terus bosen, terus berhenti. Jadi saja informasi yang diperoleh tidak seutuhnya diserap dan dicerna oleh otak. Konsistensi membaca buku ini yang kemudian menjadi tantangan saya mulai dari sekarang sampai selanjutnya. Hahaha.Diskusi produktif yang jarang dilakukan juga membuat otak semakin kering akan ide dan gagasan. Kalau dulu hampir setiap minggu suka bikin diskusi ringan, tapi cukup produktif bareng temen-temen kalau pas lagi makan, atau ngobrol-ngobrol biasa. Tapi entah kenapa, semakin kesini semakin jarang.
Dari beberapa alasan di atas, mungkin sejatinya dua alasan terakhir yang paling menguatkan kenapa jadi males nulis. Membaca dan diskusi! Menambah referensi argumen, memperkaya khazanah ide, itu semua tak akan bisa terwujud kalau kita jarang baca dan diskusi. Hampir tidak ada seorang penulis yang jarang membaca. Hampir tidak ada orang yang pintar berargumen kalau dia jarang diskusi. Keduanya terintegrasi dan saling menguatkan.
Boleh jadi, tulisan ini terlihat kering, dan gak renyah sekali dibacanya, mungkin karena dua alasan di atas.
Jadi, baca, baca dan baca!
Berharap tulisan ini mengawali semangat untuk konsisten menulis. Semoga istiqomah ya guys! :)
Berawal dari sebuah acara training di tempat saya belajar yang kemudian sering memutar instrumen-instrumen yang easy listening dan bikin enjoy telinga. Memang dasar saya orang yang tipe audio banget sehingga mudah untuk jatuh cinta dengan sebuah lagu hanya dengan sekali atau dua kali putar. Seketika langsung saya kepoin lagu enak tersebut.
Ketemulah sebuah lagu berjudul, "Ii hi datta ne" yang dimainan oleh grup musik asal Jepang, Depapepe. Yap. Tau kan? Saat itu memang saya tidak merasa asing dengan nama grup tersebut. Semenjak itu saya jadi makin penasaran dengan grup band yang digawangi oleh dua orang gitaris keren itu. Lagu demi lagu saya cari. Dan ternyata memang keren-keren ya lagunya.
Mulai kepo yang lain deh. Dari biografinya, discographynya, riwayat karirnya, sampai filosofi-filosofi lain tentang duo gitaris tersebut. Sampai pada akhirnya ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya sehingga cukup terinspirasi dibuatnya.
Satu hal yang cukup inspiring tersebut adalah bagaimana mereka memberikan nama untuk grup mereka. Depapepe itu berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang yang merupakan nama panggilan dari kedua personel tersebut. Miura "Depa" Takuya dan Tokuoka "Pepe" Yoshinari. Tau nggak gais, Deppa itu kalau di-bahasa Inggris-kan artinya overbite, atau kalau dalam bahasa Indonesia berarti tonggos. Sedangkan Pepe itu diambil dari grup band si Tokuoka sebelumnya yang bernama Derupepe.
Yang jadi sorotan saya adalah si Depa itu. Memang secara tampilan kasat mata, dia ini (mohon maaf ya) terlihat giginya maju ke depan. Apalagi kalau sedang tampil membawakan musiknya sering melakukan pergerakan buka tutup mulutnya sesuai dengan irama lagunya. Yes! He looks so confidence! Seakan-akan dunia miliknya. Tak peduli bagaimana penampilannya, yang penting dia bisa menunjukkan skill dan kelebihannya.
Bagi sebagian besar kita barangkali sering menyembunyikan sesuatu yang menurut kita tidak enak dipandang. Malu dengan kekurangan dalam hal tampilan, sehingga kadang dibuat minder olehnya. Tidak berani tampil dan segala macemnya. Mungkin kita perlu belajar dari si Depa. Alih-alih menyembunyikannya, dia malah mengatasnamakan grup bandnya dengan sesuatu yang mungkin menurut orang aneh. Bangga dengan kekurangannya. Ah, kekurangan itu hanya bahasa saya kali ya, bagi dia itu mungkin tidak pernah dianggap sebagai kekurangan.
Melupakan kekurangan, fokus pada kemampuan! Itu pelajaranya. Seringnya kita terlalu berlarut-larut pada kekurangan. Sehingga terkadang kita terhenti bahkan enggan untuk memaksimalkan potensi yang sebenarnya ada dalam diri kita. Boro-boro memaksimalkan, mencoba mencari potensi diri aja nggak. Kekurangan sejatinya bukanlah hal yang seharusnya menghentikan langkah kita. Apapun bentuknya. Semestinya ianya jadi pelajaran berharga bagi kita untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan.
Bisa jadi justru kekurangan tersebut lah yang menjadi sebuah nilai lebih bagi kita. Yap! Hari ini mas Depa telah membuktikannya. :) Arigatou na, Depa san!
Semoga bermanfaat ya ^_^
Ketemulah sebuah lagu berjudul, "Ii hi datta ne" yang dimainan oleh grup musik asal Jepang, Depapepe. Yap. Tau kan? Saat itu memang saya tidak merasa asing dengan nama grup tersebut. Semenjak itu saya jadi makin penasaran dengan grup band yang digawangi oleh dua orang gitaris keren itu. Lagu demi lagu saya cari. Dan ternyata memang keren-keren ya lagunya.
Mulai kepo yang lain deh. Dari biografinya, discographynya, riwayat karirnya, sampai filosofi-filosofi lain tentang duo gitaris tersebut. Sampai pada akhirnya ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya sehingga cukup terinspirasi dibuatnya.
Satu hal yang cukup inspiring tersebut adalah bagaimana mereka memberikan nama untuk grup mereka. Depapepe itu berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang yang merupakan nama panggilan dari kedua personel tersebut. Miura "Depa" Takuya dan Tokuoka "Pepe" Yoshinari. Tau nggak gais, Deppa itu kalau di-bahasa Inggris-kan artinya overbite, atau kalau dalam bahasa Indonesia berarti tonggos. Sedangkan Pepe itu diambil dari grup band si Tokuoka sebelumnya yang bernama Derupepe.
Yang jadi sorotan saya adalah si Depa itu. Memang secara tampilan kasat mata, dia ini (mohon maaf ya) terlihat giginya maju ke depan. Apalagi kalau sedang tampil membawakan musiknya sering melakukan pergerakan buka tutup mulutnya sesuai dengan irama lagunya. Yes! He looks so confidence! Seakan-akan dunia miliknya. Tak peduli bagaimana penampilannya, yang penting dia bisa menunjukkan skill dan kelebihannya.
Bagi sebagian besar kita barangkali sering menyembunyikan sesuatu yang menurut kita tidak enak dipandang. Malu dengan kekurangan dalam hal tampilan, sehingga kadang dibuat minder olehnya. Tidak berani tampil dan segala macemnya. Mungkin kita perlu belajar dari si Depa. Alih-alih menyembunyikannya, dia malah mengatasnamakan grup bandnya dengan sesuatu yang mungkin menurut orang aneh. Bangga dengan kekurangannya. Ah, kekurangan itu hanya bahasa saya kali ya, bagi dia itu mungkin tidak pernah dianggap sebagai kekurangan.
Melupakan kekurangan, fokus pada kemampuan! Itu pelajaranya. Seringnya kita terlalu berlarut-larut pada kekurangan. Sehingga terkadang kita terhenti bahkan enggan untuk memaksimalkan potensi yang sebenarnya ada dalam diri kita. Boro-boro memaksimalkan, mencoba mencari potensi diri aja nggak. Kekurangan sejatinya bukanlah hal yang seharusnya menghentikan langkah kita. Apapun bentuknya. Semestinya ianya jadi pelajaran berharga bagi kita untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan.
Bisa jadi justru kekurangan tersebut lah yang menjadi sebuah nilai lebih bagi kita. Yap! Hari ini mas Depa telah membuktikannya. :) Arigatou na, Depa san!
Semoga bermanfaat ya ^_^
"Aku ingin begini aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali." Hayoo, tau kutipan kalimat barusan gak? Hehehe.
Ya, seratus buat ente. Itu adalah potongan lirik OST anime Doraemon yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi di sini saya gak akan bahas doraemonnya ya. Gak ada yang baru dari Doraemon soalnya. Sudah tamat juga katanya. Lah terus apa hubungannya tulisan ini sama lagu di atas? Gak ada! Becanda, becanda. Hehe. Masa iya mencantumkan kutipan tanpa ada maksud apa-apa.
Baru saja mendengar kejadian seperti pada kalimat bertanda kutip di atas dari tetangga sebelah. Kejadian biasa sih, tapi hebohnya nasional. Iya, nasional, se Indonesia! hehe Keren kan? Makanya saya tertarik untuk membahas tentang ini. Intinya, ada orang yang maunya begini, ada yang maunya begitu. Ada pihak yang gak mau ini, ada juga pihak yang gak mau itu. Semua serba berseberangan. Tapi yang menarik, mereka terhimpun dalam satu armada, satu payung, dan satu jenis, sama sama berjenis Homo Sapiens. Hehe. Terus apa sebenarnya masalah utamanya?
Jawabnya, gak ada! Iya, gak ada! Gak ada masalah-masalah utamaan. Loh kok? Iya, yang begitu itu wajar terjadi. Sekali lagi, wajar. Iya, wajar! Terus?
Ya, saya harus mengatakan bahwa dalam berkelompok yang namanya konflik itu sangat wajar terjadi. Kurang afdol rasanya berorganisasi tanpa hadirnya sebuah konflik. Baik konflik besar maupun kecil. Semakin banyak orang dalam kelompok tersebut, semakin besar pula peluang untuk terciptanya sebuah konflik. Dan tahukah anda, semakin besar sebuah konflik maka akan semakin kuat pula sebuah organisasi. Namun dengan catatan bahwa mereka harus mampu mencari solusi atas konflik tersebut.
Itu poin pertama yang harus clear di awal. Biasa saja dengan sebuah konflik. Nggak usah mendramatisir, nggak usah lebay. Karena kadang banyak orang menganggap bahwa konflik yang tiba-tiba terjadi dalam dirinya merupakan awal dari kehancurannya. Oh, no! Itu salah besar. Justru itu akan menguatkan kita, jika kita mampu menyelesaikannya. So, be indifferent with the conflict! Kalau kata Pemerintah Inggris, "Keep Calm and Carry On" aja guys! :)
Poin kedua? Nggak ada. Hehe. Yes! Saya hanya ingin menyampaikan bahwa jadilah orang yang dewasa dalam menghadapi konflik, terutama dalam sebuah kelompok. We A wa, Je A Er Jar, wajar. Jadi menyikapinya juga yang wajar-wajar saja. Tidak usah tersulut emosi. Tidak usah terlalu terbawa suasana. Cukup keep calm and solve this! Dan selalu biasakan untuk mengkonfirmasi permasalahan pada yang berwenang, alias tabayyun dulu bro. Sebelum ente-ente pada menjudge sesuatu yang hanya katanya katanya. :)
Semoga bermanfaat ya. ^_^
Ya, seratus buat ente. Itu adalah potongan lirik OST anime Doraemon yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi di sini saya gak akan bahas doraemonnya ya. Gak ada yang baru dari Doraemon soalnya. Sudah tamat juga katanya. Lah terus apa hubungannya tulisan ini sama lagu di atas? Gak ada! Becanda, becanda. Hehe. Masa iya mencantumkan kutipan tanpa ada maksud apa-apa.
Baru saja mendengar kejadian seperti pada kalimat bertanda kutip di atas dari tetangga sebelah. Kejadian biasa sih, tapi hebohnya nasional. Iya, nasional, se Indonesia! hehe Keren kan? Makanya saya tertarik untuk membahas tentang ini. Intinya, ada orang yang maunya begini, ada yang maunya begitu. Ada pihak yang gak mau ini, ada juga pihak yang gak mau itu. Semua serba berseberangan. Tapi yang menarik, mereka terhimpun dalam satu armada, satu payung, dan satu jenis, sama sama berjenis Homo Sapiens. Hehe. Terus apa sebenarnya masalah utamanya?
Jawabnya, gak ada! Iya, gak ada! Gak ada masalah-masalah utamaan. Loh kok? Iya, yang begitu itu wajar terjadi. Sekali lagi, wajar. Iya, wajar! Terus?
Ya, saya harus mengatakan bahwa dalam berkelompok yang namanya konflik itu sangat wajar terjadi. Kurang afdol rasanya berorganisasi tanpa hadirnya sebuah konflik. Baik konflik besar maupun kecil. Semakin banyak orang dalam kelompok tersebut, semakin besar pula peluang untuk terciptanya sebuah konflik. Dan tahukah anda, semakin besar sebuah konflik maka akan semakin kuat pula sebuah organisasi. Namun dengan catatan bahwa mereka harus mampu mencari solusi atas konflik tersebut.
Itu poin pertama yang harus clear di awal. Biasa saja dengan sebuah konflik. Nggak usah mendramatisir, nggak usah lebay. Karena kadang banyak orang menganggap bahwa konflik yang tiba-tiba terjadi dalam dirinya merupakan awal dari kehancurannya. Oh, no! Itu salah besar. Justru itu akan menguatkan kita, jika kita mampu menyelesaikannya. So, be indifferent with the conflict! Kalau kata Pemerintah Inggris, "Keep Calm and Carry On" aja guys! :)
Poin kedua? Nggak ada. Hehe. Yes! Saya hanya ingin menyampaikan bahwa jadilah orang yang dewasa dalam menghadapi konflik, terutama dalam sebuah kelompok. We A wa, Je A Er Jar, wajar. Jadi menyikapinya juga yang wajar-wajar saja. Tidak usah tersulut emosi. Tidak usah terlalu terbawa suasana. Cukup keep calm and solve this! Dan selalu biasakan untuk mengkonfirmasi permasalahan pada yang berwenang, alias tabayyun dulu bro. Sebelum ente-ente pada menjudge sesuatu yang hanya katanya katanya. :)
Semoga bermanfaat ya. ^_^
Salah satu objek yang nggak bisa saya lupakan dari Sebuku adalah sebuah jenis pohon satu ini. Entah nama resminya apa, tapi orang setempat menamainya dengan Pohon Menggaris.
Satu tahun berada di pedalaman Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, hampir setiap hari disuguhkan penampakan pohon ini. Kalau yang baru pertama melihatnya pasti akan berdecak kagum dibuatnya. Halah. Lebay bro. Eh, tapi ini serius ya. Sangkin menakjubkannya pohon ini. Kalau yang sudah sering mah biasa aja kali ya.
Pohon Menggaris ini adalah pohon tertinggi yang pernah saya jumpai selama saya jalan-jalan keliling Indonesia. Hehehe. Walaupun belum pernah saya ukur panjangnya sih, yang jelas pohon ini terlihat sangat berbeda jauh ukurannya dibanding dengan jenis-jenis pohon lain di sekelilingnya. Nih penampakannya.
Entah pohon ini berbuah atau tidak, tapi kata warga sekitar, pohon ini sering dimanfaatkan untuk memanen madu. Di bagian atas pohon biasanya terdapat sarang lebah yang cukup besar dan menghasilkan madu tentunya. Madu ini cukup terkenal di kalangan orang Sebuku dan sekitarnya maupun dari luar daerah ini. Kalau sempet mampir, jangan lupa beli madunya. Lumayan murah. Seliter cuman 150ribu. Tanya-tanya aja sama warga di Pembeliangan atau di Sembakung.
Satu tahun berada di pedalaman Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, hampir setiap hari disuguhkan penampakan pohon ini. Kalau yang baru pertama melihatnya pasti akan berdecak kagum dibuatnya. Halah. Lebay bro. Eh, tapi ini serius ya. Sangkin menakjubkannya pohon ini. Kalau yang sudah sering mah biasa aja kali ya.
Pohon Menggaris ini adalah pohon tertinggi yang pernah saya jumpai selama saya jalan-jalan keliling Indonesia. Hehehe. Walaupun belum pernah saya ukur panjangnya sih, yang jelas pohon ini terlihat sangat berbeda jauh ukurannya dibanding dengan jenis-jenis pohon lain di sekelilingnya. Nih penampakannya.
Bener kan? Hampir dua kali lipat tinggi pohon di sekitarnya.
Pohon Menggaris ini batangnya berwarna putih keabuan. Diameternya lebih dari satu meter. Kalau kita menyusuri jalan dari Pembeliangan ke TulinOnsoi akan mendapati sebuah pohon ini di pinggir jalan dan menyaksikan sendiri betapa besarnya batang pohon yang memukau ini.
Entah pohon ini berbuah atau tidak, tapi kata warga sekitar, pohon ini sering dimanfaatkan untuk memanen madu. Di bagian atas pohon biasanya terdapat sarang lebah yang cukup besar dan menghasilkan madu tentunya. Madu ini cukup terkenal di kalangan orang Sebuku dan sekitarnya maupun dari luar daerah ini. Kalau sempet mampir, jangan lupa beli madunya. Lumayan murah. Seliter cuman 150ribu. Tanya-tanya aja sama warga di Pembeliangan atau di Sembakung.
Konon katanya pohon ini susah untuk ditebang. Pernah katanya ada yang mau mencoba menebang, tapi gergaji yang digunakan untuk menebang mendadak tumpul. Akhirnya banyak orang dalam Sebuku beranggapan pohon ini memang misterius. Mengandung unsur mistis di dalamnya. Katanya sih.
Nah, yang lagi mampir ke daerah Sebuku dan sekitarnya coba gali info ini lebih dalam deh. Di mbah Google jarang banget infonya.
Semoga bermanfaat ya. ^_^
Sebenarnya saya agak malu buat nulis ini. Saya selalu berfikir lebih dari satu kali ketika bikin tulisan yang temanya perempuan. Tapi rasanya ini penting untuk diketahui dan demi mengobati rasa penasaran saya.
Akhirnya saya coba-coba telusur jalan ceritanya. Introspeksi, muhasabah, sampai googling hanya untuk mencari sebabnya. Yak, sampai akhirnya saya memang percaya pada yang sering dilontarkan kebanyakan wanita, bahwa mereka mengaku sebagai insan yang lebih mengedepankan perasaan! Inilah sebabnya! Wow, sebegitu dahsyatnya kah perasaan seorang wanita sampai tega meng-nggak peka-in pria? Iya, tega banget. Mendapatkan pernyataan kayak gitu itu rasanya bagai dihujam ratusan jarum akupuntur. hehe.
Rasulullah Saw bersabda, “Aku tidak melihat wanita yang kurang akalnya dan agamanya yang dapat menghilangkan kemauan keras lelaki yang tegas daripada seorang di antara kamu”.Dari sabda Rasulullah di atas mungkin bisa sedikit mencerahkan bahwa memang dibandingkan laki-laki, wanita lebih jarang memikirkan sesuatu menggunakan akal atau logikanya. Alih-alih begitu, mereka memilih menggunakan perasaannya. Dalam persaksian, seorang wanita hanya berlaku setengah daripada seorang laki-laki. Jadi jika ingin wanita menjadi saksi, maka hadirkan seorang wanita yang lain sebagai saksinya.
Para wanita sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama kami dan akal kami, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukankah kesaksian seorang wanita itu setengah kesaksian seorang laki laki’? Mereka menjawab, “Ya”.
Beliau bersabda, “Itulah kekurangan akalnya dan bukankah bila haid wanita tidak melakukan shalat dan juga tidak berpuasa?” Mereka menjawab: “Ya.” Rasululllah bersabda, “Itulah yang dimaksud kekurangan agamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang orang lelaki di antaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.” (QS. Al-Baqarah: 282).Kedua, kaitannya dalam manajemen stres. Biasanya dalam kondisi inilah terlihat bedanya wanita dengan pria masalah perasaan dan emosional. Dalam tubuh manusia, ada yang namanya hormon oksitosin. Hormon ini terstimulus ketika manusia mendapatkan tekanan. Pada pria maupun wanita hormon ini berbeda cara kerjanya. Pada laki-laki, hormon testosteron akan mengurangi efek oksitosin. Sedangkan pada wanita, hormon esterogennya akan meningkatkan efek oksitosin. Lalu apa bedanya?
Semakin meningkatnya efek oksitosin maka semakin meningkat perasaan tenang seseorang. Oleh karena itu, ketika ada permasalahan wanita lebih cenderung membicarakan dan mendiskusikannya dibandingkan laki-laki yang lebih mengekspresikannya dengan tindakan dan amarah. Jadi sangat wajar, ucapan-ucapan pernyataan macam di awal tulisan ini dilontarkan oleh seorang wanita sebagai ekspresi mengatasi permasalahan mereka. Wanita akan merasa lebih baik setelah mereka menyatakan tentang keadaan diri mereka.
Akhirnya, saya bilang "ohhhh..." juga. Dua alasan di atas sepertinya cukup untuk memberikan pencerahan, kalau memang kaum hawa dominan perasaan seperti yang sering mereka akui. Hmmm..
Ya ya ya. Baiklah. Tapi satu hal yang mungkin jadi catatan adalah, sesungguhnya lelaki itu tidak se-nggak peka yang wanita bayangkan! Iya, bener, serius ini mah! Suara hati laki-laki! Hehe. Laki-laki itu bukannya gak punya perasaan. Sungguh laki-laki itu mengerti dengan permasalahan dan punya perasaan atas hal itu. Hanya saja kami jarang mengekspresikan secara visual. Ketika laki-laki diam atas permasalahan bukan berarti tidak peka. Tidak berreaksi bukan berarti cuek. Kadang kaum lelaki butuh ketenangan untuk memikirkan bagaimana mencari solusi dari sebuah permasalahan. Gitu.
Ya, siapapun kita, berjenis kelamin apapun kita, lebih baik damai aja ya. Bukankah berprasangka baik akan sesuatu jauh lebih baik jika kamu orang-orang yang beriman? Menjaga perkataan dan perbuatan atas orang lain juga sikap yang dicontohkan oleh Rasulullah bukan? Lantas kenapa tidak kita tauladani sikap beliau saja. Semoga bermanfaat. ^_^
Wallahu a'lam bisshowab.
Ada Harvest Moon, Winning Eleven, Final Fantasy, dan masih banyak yang lain. Tau kan itu nama-nama apa? Kalau yang seumuran sama saya pasti tau dong. Kalau nggak tau berarti masa kecilnya belum bahagia. Hehe. Ada lagi Ragnarok, Risk Your Life, Getamped, Ayo Dance, dan teman-temannya. Kalau ini masih gak tau juga? Sungguh, keterlaluan. Hehe.
Itu beberapa macam video game yang sempat ngehits di dua dekade terakhir ini. Nggak cuma di Indonesia, bahkan di Dunia. Keren kan? Jadi orang-orang yang pernah main game-game di atas itu termasuk keren.. Hehe. Malah narsis.
Oke lah, jadi begini pemirsah, saya akan mengeluarkan statement bahwa bermain game itu tak selamanya merugikan. Kenapa? Nanti saya jelaskan. Banyak orang tua, melarang anaknya bermain game dengan alasan yang sangat berragam. Ya gak bisa belajar lah, ya tambah bodoh lah, ya tambah malas lah, dan bla bla bla yang lainnya. Biasanya anak yang suka main game sering kena marah sama orang tuanya. "Kamu ini, kerjaannya main terus!", "Kerjaannya main aja, kapan belajarnya?!", begitu redaksi yang sering muncul dari orang tua ketika melihat anaknya main game. Entah apa modusnya. *maaf ya orang tua* :D
Tapi bukannya saya tidak setuju bahwa main game gak ada ruginya ya. Saya agaknya sedikit setuju kalau main game itu juga punya nilai minus. Apalagi kalau itu dilakukan secara berlebihan dan diluar batas. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bukan? *ciyee bijak* :D
Setelah bersemedi selama beberapa hari, ini lah beberapa manfaat dari main games yang saya temukan. Ini berdasarkan pengamatan oleh beberapa rekan dan pengalaman pribadi tentunya ya. Hehe.
Saran saya hanya, pandai-pandai sajalah mengambil hikmah dari sesuatu. Saya bukan menyarankan untuk banyak-banyak lah bermain game loh ya. Hanya ingin berpendapat bahwa persepsi buruk orang tentang game itu tidak selalu benar. Pintar-pintarlah mengambil manfaatnya.
Terakhir, bersudut pandanglah seluas-luasnya. Dengan begitu kita bisa melihat dunia itu memang tidak selebar daun kelor. Dengan begitu kita bisa berkacamata lensa, bukan berkacamata kuda. Dengan begitu pula kita bisa meneropong bintang dan membuktikan bahwa bintang ternyata tidak sekecil yang kita lihat.
Semoga bermanfaat ya. ^_^
Oke lah, jadi begini pemirsah, saya akan mengeluarkan statement bahwa bermain game itu tak selamanya merugikan. Kenapa? Nanti saya jelaskan. Banyak orang tua, melarang anaknya bermain game dengan alasan yang sangat berragam. Ya gak bisa belajar lah, ya tambah bodoh lah, ya tambah malas lah, dan bla bla bla yang lainnya. Biasanya anak yang suka main game sering kena marah sama orang tuanya. "Kamu ini, kerjaannya main terus!", "Kerjaannya main aja, kapan belajarnya?!", begitu redaksi yang sering muncul dari orang tua ketika melihat anaknya main game. Entah apa modusnya. *maaf ya orang tua* :D
Tapi bukannya saya tidak setuju bahwa main game gak ada ruginya ya. Saya agaknya sedikit setuju kalau main game itu juga punya nilai minus. Apalagi kalau itu dilakukan secara berlebihan dan diluar batas. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bukan? *ciyee bijak* :D
Setelah bersemedi selama beberapa hari, ini lah beberapa manfaat dari main games yang saya temukan. Ini berdasarkan pengamatan oleh beberapa rekan dan pengalaman pribadi tentunya ya. Hehe.
- Sebagai hiburan. Aktivitas sehari-hari yang monoton dan membuat otak berfikir keras sangat memungkinkan kita untuk boring, penat dan tidak bergairah. Salah satu untuk menghilangkan perasaan-perasaan tersebut dan melupakan sejenak rutinitas adalah dengan bermain video games. Serunya tantangan-tantangan yang diberikan oleh si games akan mengalihkan fikiran kita untuk tidak memikirkan lagi rutinitas yang menjemukan.
- Mengasah logika dan insting. Bermain games kadang juga butuh insting. Tidak serta merta semua orang bisa bermain dengan baik. Kadang ada yang cukup sekali main langsung bisa naik ke level berikutnya. Ada yang sudah bermain berkali-kali tetep aja game over juga. Itu bergantung sama insting dan logika si pemain. Tapi dengan semakin sering bermain, akan semakin terasah insting dan logika kita. Kita akan semakin mudah membaca pola-pola yang ada pada games tersebut. Imbasnya, logika dan insting ini juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari kita dalam membaca pola-pola kehidupan.
- Berfikir sistematis. Ada beberapa genre games yang sangat memerlukan pemikiran sistematis si pemainnya. Salah satunya game RPG (Role Played Game). Pada game RPG pemain dituntut untuk menyelesaikan sesuatu sebelum melakukan sesuatu yang lain. Semacam prasyarat. Lakukan A dulu sebelum melakukan B, begitu seterusnya. Tentu dengan kita terbiasa bermain game RPG ini cara berfikir kita akan semakin sistematis untuk diterapkan di aktivitas keseharian kita. :)
- Mengasah kreativitas. Imajinasi yang disajikan dalam sebuah games seringnya memang diluar akal kita. Ada orang bisa ngeluarin api, ada tongkat yang bisa ngeluarin es, ada pedang yang bisa berubah jadi naga, dan lain-lain. Ini tentu hanya ada di dunia hayalan. Tentu ini akan memicu si pemain untuk berfikir out of the box. Yap, dengan seringnya berfikir out of the box akan terpacu juga kreativitas kita. Semakin sering semakin terasah.
- Pantang menyerah. Ketika sedang bermain game, kalau kita kalah, biasanya terpacu untuk main lagi. Penasaran dengan bagaimana rasanya menang. Penasaran bagaimana serunya cerita berikutnya. Ini kalau bisa dirasionalisasikan dalam kehidupan nyata keren banget. Kalau jatuh ya bangkit lagi. Kalau gagal, ya coba lagi. Fokus pada capaian.

- Silaturrahim. Nah, ini khusus untuk game online atau yang bermode multiplayer. Modus ini kalau dikonsep dengan baik, sangat efektif digunakan untuk saling bercengkerama, bercerita, bersendau gurau, berdiskusi, berkumpul bersama, bahkan berdiskusi tentang sesuatu.Terlebih lagi kalau kita bermain game online, kita bisa punya teman baru.Yang begini namanya mempererat silaturrahim bukan?
- Problem Solving. Saat bermain sebuah games kita disuruh bagaimana caranya memecahkan sebuah masalah tertentu. Bagaimana caranya kita bisa menuju ke sebuah tujuan dengan berbagai rintangan yang disajikan. Ini sangat bagus kalau kita biasakan. Beneran! Kebiasaan kayak begini akan memudahkan kita mendapatkan masalah di kehidupan nyata. Seakan-akan kita sudah terbiasa memecahkan masalah. Kita lebih mudah membaca pola permasalahan, berikut dengan penyelesaiannya.
Saran saya hanya, pandai-pandai sajalah mengambil hikmah dari sesuatu. Saya bukan menyarankan untuk banyak-banyak lah bermain game loh ya. Hanya ingin berpendapat bahwa persepsi buruk orang tentang game itu tidak selalu benar. Pintar-pintarlah mengambil manfaatnya.
Terakhir, bersudut pandanglah seluas-luasnya. Dengan begitu kita bisa melihat dunia itu memang tidak selebar daun kelor. Dengan begitu kita bisa berkacamata lensa, bukan berkacamata kuda. Dengan begitu pula kita bisa meneropong bintang dan membuktikan bahwa bintang ternyata tidak sekecil yang kita lihat.
Semoga bermanfaat ya. ^_^
"Iman itu dibagi menjadi dua, separo dalam sabar, separo yang lain dalam syukur." - Muttafaq 'alaih.
Kalau orang mengatakan sabar itu ada batasnya, maka itu adalah salah besar. Iya. Gimana nggak coba. Kalau ada batasnya berarti si orang tersebut nggak sabaran namanya. Sepanjang apapun batasnya. Secara matematis hal tersebut berarti "nggak sabar=sabar". Tentu hal ini kontradiktif. *apa sih* hehehe
Jadi teringat kalimat dari mas Andi Hermawan, mantan ketua Himatika UGM senior saya waktu kuliah dulu. Beliau pernah bilang, "Sabar itu ujungnya nikmat". Pada taraf ini saya sangat setuju. Dan hebatnya, sampai sekarang saya selalu terngiang dengan kutipan dari mas Andi itu.
Sabar yang bagaimana yang berujung nikmat? Ya sabar dengan sebenar-benarnya sabar. Bukan sabar yang abal-abal, dibuat-buat, dan hanya sesaat.
Dalam kamus saya, setidaknya seseorang itu harus senantiasa bersabar pada 3 hal.
Jadi, masih mau bilang sabar itu ada batasnya? Moga bermanfaat ya! :-)
Kalau orang mengatakan sabar itu ada batasnya, maka itu adalah salah besar. Iya. Gimana nggak coba. Kalau ada batasnya berarti si orang tersebut nggak sabaran namanya. Sepanjang apapun batasnya. Secara matematis hal tersebut berarti "nggak sabar=sabar". Tentu hal ini kontradiktif. *apa sih* hehehe
Jadi teringat kalimat dari mas Andi Hermawan, mantan ketua Himatika UGM senior saya waktu kuliah dulu. Beliau pernah bilang, "Sabar itu ujungnya nikmat". Pada taraf ini saya sangat setuju. Dan hebatnya, sampai sekarang saya selalu terngiang dengan kutipan dari mas Andi itu.
Sabar yang bagaimana yang berujung nikmat? Ya sabar dengan sebenar-benarnya sabar. Bukan sabar yang abal-abal, dibuat-buat, dan hanya sesaat.
Dalam kamus saya, setidaknya seseorang itu harus senantiasa bersabar pada 3 hal.
- Musibah. Baik itu musibah yang disebabkan gejala alam, atau musibah yang terjadi karena diri sendiri maupun orang lain. Gempa bumi, tanah longsor, rumah kebakaran, kecelakaan, dan musibah-musibah lain yang merugikan kita. Sejatinya semua itu atas kehendak Allah. Allah azza wajalla memberikan manusia musibah untuk membuat manusia tersebut naik satu level. Lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih tahan terhadap ujian kehidupan, itulah hadiah bagi orang yang senantiasa bersabar dalam menghadapi musibah. Tak perlu banyak mengeluh, just move on guys!
- Amarah. Ada syaitan yang selalu mengintai manusia di berbagai aktivitasnya. Ianya selalu membuat manusia tergoda untuk melakukan sifat-sifatnya. Bisikan-bisikan semunya sering membuat orang terlena dengan perangai buruk. Amarah adalah salah satunya. Ditengah-tengah kesibukan manusia akan urusan dunia, amarah sering muncul sebagai pelampiasan emosi. Marah karena pekerjaan yang membuat pusing. Marah karena kehidupannya terusik oleh orang lain. Marah karena anak terlalu rewel. Emosi itu wajar. Tapi melampiaskan emosi dengan marah-marah itu yang nggak wajar. Sungguh yang demikian adalah perbuatan syaitan. Sabar menahan amarah adalah satu-satunya solusi untuk hal ini. Bersabarlah hingga emosi kita mereda. InsyaAllah, itu akan jadi hal yang nikmat.
- Menunggu. Ini dia yang sering dialami oleh kita-kita. Katanya, menunggu adalah hal yang paling menjemukan. Iya benar, bagi yang tidak menikmatnya. Menunggu teman yang sudah janjian sebelumnya. Menunggu antrian panjang. Menunggu panggilan pekerjaan. Atau menunggu datangnya jodoh. #eaaaa. Kadang orang suka galau karena menunggu. Suka nggak sabaran, yang akhirnya menghalalkan segala cara. Astaghfirullah. Di saat-saat seperti ini sabar sangat berperan bagi kita. Ianya akan menjadi perisai bagi kita akan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Ianya akan menjadi penyejuk dalam masa-masa penantian tersebut. Hingga pada akhirnya, kita juga yang akan menikmati indahnya nikmat menunggu. Bukannya semua akan indah pada waktunya? Jadi, hiasilah masa-masa menunggu ini dengan hal-hal yang produktif saja. Sambil memantaskan diri, sambil mempersiapkan rencana untuk menikmati indahnya ujung penantian tersebut. Enak kan? :)
Jadi, masih mau bilang sabar itu ada batasnya? Moga bermanfaat ya! :-)

















